24.3.16

Nyari-nyari yang Nyar’i

Saya pernah berada di posisi sebagai satu-satunya murid yang menerima nilai ulangan fisika dengan nilai 0. Nilai 0 sendiri! Sedangkan teman-teman terdekat saya nilainya perfecto cum laodo. Ada yang 70, 95, 100 ada. Padahal waktu mengerjakan soal rasanya yakin yang haqul yakin gitu. “Ah ini pasti gini caranya”. Tapi faktor lain juga karena cara belajar saya yang sistem kebut semalam itu. Rasanya saat itu kan seperti orang paling malang se-Jawa Timur. Bengong, sedih, ramijud raray, banyak penyesalan dan berjanji akan berbuat lebih baik jika ada ujian berikutnya.

Sebenarnya waktu ujian fisika itu, saya sudah berniat belajar sekencang-kencangnya Jupiter Z. Aslina wani diriungkeun ku bupatina. Tapi ada teman yang bilang “Ah kalem lah da urang ge acan belajar”. Atau “Santai atuh belajar wae. Main heula atuh mumpung masih muda. Sudah tua mah susah main teh”. Lantas saya ikut main. Seru kali bah refreshing setelah sekian lama gak main-main. Kalau anak sekarang bilang kurangpikinik. Maka terjerumuslah saya ke dalam kegiatan menghabiskan waktu di rental PS terdekat main Winning Eleven dan Harvest Moon nepi ka anakan trus poligami. Ingat belajar di injury time.

Lalu saya membayangkan ujian fisika dengan kehidupan. Bagaimana kalau nanti saya mati lalu dihisab, terus dapat buku amal nilainya jeblok dan malah di-DO juga ke neraka? Naudzubuiilah. Lalu di akherat saya melihat kawan-kawan yang tidak saya sangka kesolehannya, mukanya berseri-seri karena nilainya perfecto cum laudo. Yang saya kira preman pasar, tapi ternyata guru ngaji. Yang saya kira tukang mabok, ternyata dia beli miras cuma buat dibuang-buang karena hari itu dia berharap ada beberapa orang yang tidak minum-minum karena stoknya habis diborong. Karena mereka perfecto cum laudo, lalu mereka ditraktir Allah ke tempat yang paling mereka inginkan, makan apa saja yang mereka mau, dimanja-manja. Sedangkan saya dihukum karena gagal lulus ujian. Coba kalau ada waktu buat ujian lagi? Lha ini ujiannya cuma sekali. Gak bisa nego. Sakitu pasna. Pokona, wantun galeuh, teu wantun mangga kantunkeun.


***

Dengan kesibukan akhir-akhir ini mencari-cari kesibukan, saya kepikiran untuk sekolah lagi ambil S2. Inilah tipikal sarjana yang gagal cetak. Setelah bingung mau ngapain, yang terpikir di benaknya adalah kuliah lagi ambil S2, dalam oke, luar negeri lebih oke karena plus jalan-jalan. Yang mikir seperti itu cuma saya saja kok, gak bermaksud menyerempet-menyerempet orang. Picilakaeun. Singkatnya, saya mau daftar S2 lagi. S2 ka Allah jurusan surga. Karena katanya, kalau ambil jurusan ini, begitu lulus, lulusannya mudah bekerja dan berkualitas. Mau berprofesi sebagai apapun nantinya. Desainer produk kek, arsitek, direktur, presiden, walikota, tukang bubur, tukang angon domba, apapun itu, kalau orientasinya, cita-citanya diputar haluan ke arah jannah, maka orang-orang itu akan bekerja terus sampai targetnya tercapai. Beda kalau jurusan desain otomotif (nyepet ka aing eta teh?). Kalau sudah lulus dari jurusan ini, lalu sudah jadi desainer, jadi chief designernya misalnya, sudah we sisa hidupnya geje. Karena target hidupnya sudah tercapai. Begitu katanya. Jadi doakan saya lolos tes masuk S2 ini ya kawan-kawan. Ya kamu pasti bisa! Yaa payaah!! Aayoo manis….

Karena universitas yang saya tuju buat S2 ini universitas favorit, makanya persiapannya kudu edan-edanan. Sekarang kan banyak universitas abal-abal buat S2 jurusan surga Allah. Ya Unjil, Universitas Jaringan Iblis Lieur, Universitas Syiah, ini lah itu lah, yang swasta juga ada tuh Bina Sarana Lia Eden. Geus teu kaharti ku urang mah. Memang sekarang belajar agama itu mudah. Pelajaran yang jauh-jauh dari Arab, dari Cina, dari Malaysia, Garut, Cikawao sudah bisa diakses lewat internet. Sudah ada terjemahannya, tafsirnya, sejarahnya, detail markitail. Bahkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadist-hadist yang dibuat postingan rutin di media sosial. Tujuan awal si pembuat tentu untuk menyebar kebaikan. Menyebar ilmu agar para followersnya mengamalkannya. Terkait ini, doa saya satu saja : Ya Allah jangan jadikan aku lelaki yang ngelike postingan-postingan Islami ketika aku ngeceng awewe Ya Allah. Kan ada tuh postingan yang kalau di-like, kelihatan kalau kita ngelike itu. Saya mah takut weh ngelike teh da muncul di timeline orang lain. Lain. Bisi disangka keur loba kuota jol dipentaan pulsa ku mamah. Tapi persepsi orang kan beda-beda. Bisa jadi memang dia selalu mengamalkan apa yang dilike di postingan tersebut. Namanya hati orang siapa yang tahu sih iwal ti Gusti Nu Agung. Wallahua’lam.

***

Ieu mah lain pesan-pesan terakhir sebelum urang join Isis. Lain jon! Sok lalawora. Ngan, kalau ada yang menyangka saya agak berubah akhir-akhir ini mohon maklumin. Rek jadi betmen. Kalau saya juga agak menjauh dari teman-teman yang merasa dijauhi, maaf juga bukan berarti saya menjauh, tapi karena pindah pergaulan. Lagi nyari-nyari yang nyar'i. Piraku kudu kagebunshin? Kecuali kalau kita bareng-bareng bergaulnya, sama frekuensinya, nanti juga bertemu lagi. Malahan lebih menyenangkan kalau kumpulnya, ketemunya ketika sudah saling memperbaiki satu sama lain. No more sikut-sikutan, gak ada lagi saling menyinggung perasaan, gak ada lagi saling adu emosi, gak ada lagi pakuat-kuat sabar menghadapi satu sama lain, moal patarik-tarik nyanyi Mars Perindo deui da geus apal ngaji. Beungeut metal hati murottal tea geningan. Pokona beres weh urusan galau-galau hidup teh. Karena bisa jadi bukan masalah hidup kita yang Allah selesaikan, tapi kita yang lebih dikuatkan menghadapi permasalahan hidup kita. Cenah eta oge nyak. Tong percaya ceuk urang. Musyrik.

Kalau saya lihat di masjid-masjid sekarang isinya orang-orang tua yang juga sedang persiapan ujian pas nanti dihisab, saya mau mempercepat persiapan selagi muda dan bertenaga. Memang harus menunggu tua untuk siap-siap? Apa bedanya sama sistem kebut semalem? Takut materinya belum nempel pas ujian. Atau yang nempel cuma dikit. Karena saya tahu rasanya mendapat nilai 0 di ujian fisika. Makanya, mumpung masih belum nyusun tesis S2, saya mau bikin contekan ke Rasulullah yang nilanya udah 100+.

Percaya gak kalau ngejar akherat, dunia juga dapet? Percaya, tapi belum mengalami karena selama ini, ilmu agama yang sampai ke saya hanya sebatas tau tapi tidak diprioritaskan. Karena saya anggap ada urusan lain yang harus lebih diutamakan semacam kuliah, pekerjaan, pacaran,  rapat, lomba, segala macam sampai hati ini dibutakan dari hidayah. Akhir-akhir ini semacam ada cahaya nyempil di balik mendung yang selama ini bergelayut (teu ngeunaheun kieu bahasana). Enak. Cerah. Hangat. Sudahlah yang penting mah percaya we heula. Hayu mari sahabat dahsyat, kita nyanyi   ngaji bareng.

3.3.16

Sabar Ada Tempatnya.

Sabar ada Batasnya.

Penemu quote itu layak mendapatkan penghargaan setinggi-tingginya. Bagaimana tidak? Qoute-nya dipakai banyak orang. Laku di pasaran. Dipakai oleh orang-orang yang kurang fight, mudah putus asa, tempramen, medioker, dan biasanya ingin dikasihani karena pamrih (mengharapkan sesuatu tapi tidak kesampaian). Pertanyaannya, memang sudah mencapai titik habisnya kesabaran? Atau yang mudah dulu saja. Sudah punyakan kita sifat sabar?

Sabar ini tanda keimanan. Kata ulama-ulama lho bukan kata saya. Saya menulis ulang saja tapi saya percayai hal itu. Dan sifat sabar yang paling jelas itu ada pada orang-orang beriman. Allah akan tahu seseorang itu beriman atau tidak dengan melihat respon orang itu jika dihadapkan pada sesuatu yang menguji kesabarannya. Apakah responnya emosi? Diam? Mendoakan hal buruk pada orang lain? Mendoakan hal baik pada orang lain? Jika seseorang merespon hal yang membuatnya jengkel dengan tersinggung, emosi, baper, sejatinya itu bukan kesabaran dan bukan tanda orang yang beriman. Orang-orang yang ‘sumbunya pendek’ ini biasanya sering bawa kaca pembesar. Apa-apa yang kecil dibesar-besarkan. Misalnya seseorang diuji karena menghadapi orang yang membuatnya kesal, ia akan mencari-cari sumber kekesalannya pada orang lain lalu membesar-besarkannya seolah-olah orang tersebut lebih salah dari dirinya. Pasang status di media sosial bahwa dia kesal, marah, dan bahkan dengan kata-kata yang kurang layak untuk dikatakan. Orang-orang sabar tidak akan seperti itu. Orang-orang sabar tidak akan membesar-besarkan masalah. Pepatah bilang, tutupi luka sebesar ukuran luka itu sendiri. Kalau luka gores di jari, perbannya gak lebay, obat merahnya gak bergalon-galon, cukup setetes sebesar luka itu sendiri. Orang-orang sabar tidak akan membawa kaca pembesar, melainkan membawa cermin. Kalau kita emosi, galau, lelah, putus asa yang disebabkan karena perbuatan/perkataan orang lain, cari solusinya dengan cermin. Dengan bercermin, kita akan selalu melihat kekurangan diri kita dan berusaha memperbaiki diri kita sendiri bukan menuntut orang lain untuk menjadi seperti kita atau mengikuti kehendak kita yang menurut kita baik tapi menurut orang lain tidak. Kan belum tentu kita itu lebih baik darinya, kecuali kebaikan yang kita tunjukkan itu ada sumbernya. Cari solusinya untuk diri sendiri, bukan untuk orang yang kita emosiin atau kita galau-in. 

Sabar itu tidak ada batasnya. Kalau ada batasnya, bukan sabar namanya. Sabar itu ada tempatnya. Bisa jadi itu emosi, galau, gegana (gelisah galau merana), dan ungkapan ketidakberdayaan lainnya. Galaunya orang-orang sekarang apalagi anak muda, biasanya hal-hal remeh temeh. Kalau bukan soal sekolah, orang tua, teman, cinta-cintaan. Beda dengan orang-orang zaman sebelum ini. Galau-galau mereka ketika muda itu galau karena memikirkan bangsa, umat, permasalahan negara, dan lainnya di luar permasalahan perasaan. 

Salah satu penyebab bangsa ini jadi bangsa yang menye-menye dan apa-apa main perasaan, melankolis, sensitif, itu karena setiap permasalahan yang dihadapi yang menguji kesabaran, sering dicekokin juga lagu-lagu penggiring kegalauan dan amarah. Sedang kecewa putus cinta, “listening to Kandas, Patah, Menangis semalam, dll". Sedang marah sejadi-jadinya, nyetel lagu Burgerkill. Malah semakin dipertegas dan terjerumus dalam kegalauan atau amarahnya menjadi-jadi. Bukannya menyemangati diri dengan lagu-lagu penyemangat, film-film inspiratif, kegiatan-kegiatan yang bisa mempertebal kesabaran atau setidaknya meredakan kegelisahan dan amarah.

Sabar itu juga dengan belajar mengajari telinga kita untuk ikhlas mendengar dan mata kita untuk ikhlas melihat. Belajar mendengar dan melihat sesuatu karena Allah bukan karena orang lain. Kalau karena orang lain, kita hanya mau mendengar dan melihat dari orang-orang yang kita anggap hebat, pintar, dari orang-orang yang akrab, se-pemikiran, se-pergaulan, nyaman. Kalau dari orang yang ia benci, tidak pintar di matanya, tidak hebat di matanya, akan dia hiraukan. Kalau telinga dan mata mau belajar ikhlas, dia akan sabar mendengar dan melihat apapun karena Allah, karena kebenaran. Mendengar kebenaran itu bebas dari mana saja sekalipun dari musuh, dari orang lulusan SD, dari orang yang DO, dari pemulung, dari mana saja. Bangsa ini tidak akan maju jika orang-orang tua tidak mau mendengar kebenaran dari orang-orang muda. Bangsa ini tidak akan besar jika orang pintar tidak mau minum tolak angin. Maaf salah. Jika orang pintar berpendidikan tinggi tidak mau mendengar kebenaran dari orang yang kurang pendidikannya. Terimalah kebaikan walau itu dari seorang budak. Terimalah kritik jika itu kritik konstruktif, membangun dan memang benar itu baik. Akui kesalahan jika itu nyata sebuah kesalahan. Tidak berdalih dan mengutarakan ribuan alasan agar terlihat tidak bersalah. Andai semua itu bisa kita terapkan, atau setidaknya ada usaha ke arah sana, Allah akan menunjukkan jalan keluar dari segala permasalahan yang kita hadapi. 

***

Sabar waktu.

Soal siang tadi di sebuah kampus di daerah Dipati Ukur. Saya hendak menghadiri sebuah acara seminar wirausaha. Ditawari, lebih tepatnya. Jadi saya anggap ini gratisan. He he. Daftarnya on the spot saja katanya. Ok. Begitu sampai di lokasi, tiketnya habis, kata panitianya. Oh yasudah saya pikir. Lalu sebelum pulang lagi, saya laporan saja pada orang yang mengajak saya itu bahwa tiketnya habis. Kecewa memang, tapi sudah terbiasa. You know what? Di sana saya semakin yakin hal ini > Apa yang menurut kita buruk, menyebalkan, mengecewakan, ternyata bisa jadi itu yang terbaik kata Allah. Dan apa yang menurut kita terbaik, menyenangkan, belum itu itu yang terbaik menurut Allah. Kuncinya sabar. Singkatnya, setelah itu, eh saya malah disuruh masuk sama panitianya, gratis, tapi tanpa konsumsi katanya. Karena saya mengejar ilmunya, tak apalah. Eh di acara itu, karena saya bertanya, saya dikasih voucher kafe, plus, pulangnya malah dikasih lagi konsumsi yang tadi katanya habis ternyata masih ada sisa. Allah doubled it! He he. 

*** 

Jujur saja, akhir-akhir ini saya merasa aneh jika bersikap seperti orang ‘bener’, I mean, ya semacam bener tapi gak merasa bener. Hanya menyampaikan kebenaran demi mengingatkan diri sendiri dan juga orang lain. Agak-agak sedikit dakwah, dan sebagainya. Bukan karena merasa lebih benar dan lebih tahu. Bukan! Kalau ini disampaikan oleh Aa Gym saya setuju, tapi kalau keluarnya dari saya, saya sendiri sering bertanya lagi soal tingkat kebenarannya. Tapi tanpa bermaksud menganggap diri lebih baik dari pembaca sekalian, tapi sekali lagi, saya menulis ini semata-mata sebagai reminder, ngelingan diri sorangan, pengingat diri sendiri khususnya, dan saya berharap orang-orang yang saya sayangi pun bisa mendapat kebaikan ini. Kebaikan dan kebenaran yang pada masa ini banyak dipertanyakan. Kebenaran yang datangnya dari langit. Ti Gusti Allah. Dari kitab suci umat Islam dan Hadis. Dengan melihat kondisi negeri saat ini, apakah ada yang punya solusi lain untuk menyelesaikan permasalahan ini dan menyelamatkan diri beserta orang-orang yang kita cintai selain dengan kembali ke agama Islam?

14.2.16

Ghirah

Q.S. Al Kahfi 9-26.

Seorang ustadz pernah menyampaikan dalam dakwahnya, kalau mau mencari inspirasi tentang semangat dan perjuangan anak-anak muda yang istimewa, bacalah ayat tadi.Di sana ada kisah Ashabul Kahfi. Siapa tak tau kisah ini. Lengkapnya ada di blog-blog islami atau di tafsir-tafsir Al-Qur’an karena saya tidak akan membahas atau menceritakan kembali kisah tersebut lalu kemudian diambil intisarinya. 

Ini soal perjuangan. Ini soal anak muda.

***

Akhir-akhir ini saya keranjingan baca buku-bukunya Buya HAMKA. Seperti ada nilai yang berbeda ketimbang buku-buku lain. Entah apa saya pun tidak bisa mendeskripsikannya dalam bahasa manusia. Memang sangat kental dengan nuansa religinya. Ya bagus. Tapi tidak terkesan seperti buku ceramah. Ada 1 buku yang masih saya buru. Judulnya Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam.

Bicara soal Ghirah, Hamka menyebutnya sebagai “kecemburuan”, meskipun kata ini telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata “gairah” yang berarti semangat. Ghirah / cemburu ini bukan hanya diartikan sebagai perasaan dimana hati seolah-olah terbakar karena suatu kejadian. Lebih dari itu, ghirah ini dianggap sebagai rasa ingin menang, ingin bangkit, dan menjadi motivasi untuk menaklukan sesuatu/seseorang sebagai bentuk lain dari iman. Misalnya, seorang akan tersinggung jika agamanya dihina, difitnah, dilecehkan. Seseorang akan merasa cemburu jika bangsa lain lebih maju dari bangsanya sendiri. Seseorang akan merasa ingin lebih hebat dari orang lain dengan bersaing secara sehat.

Lalu apa kaitan ghirah dengan pemuda? Dengan pemudi? Adakah yang menyadari kapankah dimulainya kebangkitan umat Muslim dahulu kala? Siapa tokoh-tokoh di balik rentetan kemenangan-kemenangan besar itu? Kemengan atas penaklukan-penaklukan bangsa eropa, asia tengah, dan afrika? Menurut sepengetahuan saya (dan ditegaskan dengan penjelasan ustadz-ustadz atau teman-teman ahli agama), kebangkitan umat islam justru bukan digagas orang-orang tua. Kebangkitan dan kedigdayaan umat Islam dahulu kala justru diinisiasi oleh para pemuda pemudi dengan usia rata-rata 20-30 tahun. Tidak percaya? Boleh digali iinfo mengenai tokoh-tokoh seperti Sultan Muhammad Al-Fatih penakluk Konstantinopel, Umar bin Khattab ketika awal-awal masuk Islam, Dokter Ibu Sina (Avicenna), Abbas Ibn Firnas, dan masih banyak lainnya. Tidak lain karena anak muda memiliki potensi yang luar biasa serta didukung oleh energi dan ghirah yang tinggi itu tadi. Di jaman sekarang, contoh ghirah-nya anak muda bisa dilihat di media sosial. Si A temenan sama si B. Ketika si A followersnya ada 24K misalnya, si B cenderung cemburu, dan termotivasi untuk ‘mengalahkan’ si A. Berbagai cara dilakukannya untuk nambah followers/likes. Dan ketika si B sudah menyamai/mengalahkan si A, index of happinessnya bisa jadi bertambah dan dia makin PD, misalnya. Padahal itu hal sepele saja. 

Taukah apa yang lebih baik daripada dapat followers 24K? Followers 25K! No. Kidding. Tapi, Ghirah itu akan lebih baik jika orientasinya dialihkan dari sekedar hanya mencari sensasi, menjadi ghirah untuk menjemput pahala Allah SWT. Jika kita sekarang hidup di satu wilayah, ghirah itu harusnya muncul untuk membuat wilayah kita lebih maju dan berkembang. Tidak mau kalah dengan majunya daerah lain, negara lain. Kalau diterapkan sebagai landasan nasionalisme, Insya Allah Indonesia akan jauh melampaui Negara manapun karena warganya, khususnya para pemuda pemudinya “cemburu” akan negara maju lain. Cemburu, karena Indonesia seringkali dipandah sebelah mata oleh developed countries lainnya. Kalau dalam cakupan kenegaraan dirasa terlalu luas, maka mulailah dengan keluarga sendiri. Cemburu suami pada istri. Cemburu jika keluarga dilecehkan. Barulah bergerak eksteral ke tetangga, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kota, dan seterusnya. Terusnya berjuang dengan rasa “cemburu” tadi guna membawa wilayah sendiri lebih baik dan menjadi kawasan maju dalam berbagai aspek kehidupan.

Ghirah lahir dari rasa cinta. Cemburu adalah tanda cinta. Maka, bagi seseorang yang sudah terlalu cinta dengan sesuatu, seseorang, tanah airnya, wilayahnya, suatu hal yang wajar jika ia akan sering cemburu. Cemburu untuk selalu ingin membela negaranya, membela tanah airnya sekalipun diinjak-injak berkali-kali, memajukan wilayahnya, dan seterusnya. Ia pun senaniasa akan menyempatkan waktu barang sedikit pun untuk peduli, mencurahkan perhatian, dan memperjuangkan segala sesuatunya untuk apa yang ia cintai tanpa disuruh orang lain. Memang begitu kan cinta itu?. Kebangkitan (Islam) itu bukan dilihat dari banyaknya pengikut, penganut, anggota, tapi nilai-nilai kemanusiaan, ke-Islaman yang ada di setiap adegan kehidupan.

Rapatkan barisan, bersihkan hati, luruskan niat.

2.2.16

Cita-cita. Disuruh berhenti atau berusaha lagi dengan jalan lain?

Buat saya, mendapat kalimat 'maaf kita tidak bisa lanjut ke tahap berikutnya' itu sudah biasa, saking terlalu seringnya, either work-related or love-related. Tapi kali ini, perlu waktu lama bagi saya untuk mencerna kalimat berikutnya yang berisi penjelasannya. Sebuah penjelasan panjang namun hanya satu kata yang saya tangkap. Jelas, meluncur deras, sampai roboh harapan-harapan saya selama ini.

Siapa tidak punya cita-cita? Anak kecil seringkali ditanya cita-cita oleh orangtuanya atau kerabat keluarganya kalau mereka sedang menggoda atau kehabisan topik untuk mengajak anaknya berbicara. Memang kebanyakan cita-cita masa kecil jauh berlainan ketika menginjak dewasa. Buat saya, perubahan cita-cita itu tidak terlalu jauh. Saya masih ingat lagu si joshua sama tukul soal pesawat terbang. 

* cita-citaku …u…u….u….ingin jadi professor (asik)
bikin pesawat terbang kubuat sendiri (wow canggih ya)
kalau bisa terbang kubawa mama kepasar ( ikutan dong…)
kalau bisa terbang kuantar papa kekantor ( wow ikut juga, ikutan ngeok )
Sepertinya dari situ awal mula saya senang mencorat coret bbuku atau tembok dengan gambar-gambar pesawat, mobil, motor, dan apapun yang seringkali ditunjukkan oleh orangtua ketika masih balita. Minat itu makin saya tekuni saat di smp, sma dan semakin menjadi ketika di perkuliahan. Bedanya, saat ini sudah mulai spesifik, saya mau membuat mobil. Biar kata orang mobil bikin macet, saya tetap ingin seperti joshua, bedanya, cita-citaku u u u u ingin jadi dhesainer, bhikin mobhil cangghih kubhuat sendhiri.. yang memang buat nganter ibu tak hanya ke pasar, tapi kemana-mana maunya beliau. tak mau tanggung, saya mau jadi top 4 desainer kelas dunia berjejer sama peter schreyer, chris bangle, giorgetto giugiarro. Ha ha..

Project kampus, mobil listrik. Lomba-lomba, mobil juga. Pekerjaan pertama, mobil listrik juga. Sampai sana saya bersyukur masih pada jalan yang benar. Oh Tuhan memang baik padaku.

Sampai kapanpun juga Tuhan amat baik. Saya yakin. Walaupun kelihatannya ke depannya agak sedikit sulit, Tuhan masih baik dengan memberi saya perkara ini. Pagi tadi, tahap final rekrutmen jadi desainer mobil sudah ada hasilnya. Hasilnya saya tidak lolos karena ternyata, saya divonis skoliosis yang sudah lama diderita, ketika medical check up minggu lalu. Tidak hanya itu, karena menurut dokter kelainan ini tidak dapat diperbaiki, dan umunya automotive company memiliki standar MCU yang sama, saya diberitahu bahwa akan tipis kemungkinan perusahaan2 lain juga menerima sampai menjadi pegawai tetap, desainer tetap. Untuk interview dan sampai apapun masih bisa, namun MCU tadi, sepertinya cenderung sulit lolos nika standarnya sama. Berapa kali dicoba pun, tidak akan berubah. Begitu kira-kira penjelasan hrd dan tim medisnya pagi tadi. Memang beginikah dunia? Seolah manusia makin ke sini makin dituntut untuk sempurna : pintar, memiliki keahlian di atas rata-rata, menarik itu nilai plus, lalu badan bagus. Lalu kemanakah mereka yang kurang salah satu di antara itu semua atau bahkan tidak memiliki sama sekali? Terasing? Tersisih? Terasing dan tersisih itu karena ada yang disishkan oleh objek yang menyisihkan.

Harapan saya terlalu tinggi. Mengingat beberapa rekan yang sudah menjadi pegawai di sana sudah mengontak saya beberapa kali menanyakan perihal factory visit, menawarkan tempat kosan sementara, menanyakan transport saya jika sudah di sana, dan sebagainya. Karena proses rekrutmen saya ternyata memang diketahui terutama tim rnd. Seolah saya sudah menginjakkan satu kaki di tim mereka dan hanya tinggal menunggu waku. Namun sepertinya bukan ini jalur yang harus saya tempuh untuk mengapai cita-cita.

Hal-hal yang sifatnya goib itu saya percaya. Kalau bukan rezekinya, berarti saya masih hutang banyak ibadah buat nutup dosa dulu. Mungkin dosa-dosa besar yang saya perbuat dan menghambat pintu rezeki, menyuruh saya mengambil jalur lain yang lebih berat sebagai 'hukuman' karena dosanya kebanyakan. Tapi saya rela dengan hukuman begini, asal Allah masih ada sayang pada saya biarpun sedikit. Tapi saya pun ingin disayang banyak. Ah banyak maunya.

Tulisan ini semata-mata saya jadikan pelajaran. Jatuh karena ekspektasi tinggi itu menyakitkan. Apalagi kita tahu bahwa kita harus menghadapi jutaan tangga kembali untuk naik ke posisi terakhir sebelum terjatuh itu, untuk selanjutnya meneruskan melangkah menuju gerbang cita-cita dan mebukanya dengan suka cita.

Mengahadapi tagihan asuransi (yang tadinya saya proyeksikan sekalian tabungan haji si ibu), lalu ketidakjelasan pemasukan saat ini untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan, lalu target menikah, lalu ongkos ini itu, semuanya membuat pusing kepala sedari pagi. Hanya ada beberapa kerjaan kecil yang tidak seberapa dan itu tidak berkelanjutan. Seperti hilang haluan. Kapal oleng kapten, oleng.

Dipandang dan dibicarakan orang karena saya sebagai pengangguran cetakan perguruan tinggi sudah tidak saya gubris. Tapi kalau itu dihubung-hubungkan ke keluarga saya, mending gelut weh yu!

***

P.s. : saya berharap post script ini dibaca oleh para orang tua terutama sang ayah, bapak, sebagai pemegang keputusan, pemimpin keluarga yang dihormati. Selalu perhatikan anak-anakmu sampai saatnya kalian melepas menyerahkan tanggung jawab anakmu pada orang lain. Kalau anakmu berumur 30 dan masih satu rumah, artinya ia tanggung jawab orangtua, baik menuntut kewajibannya ataupun memberi haknya sebagai anak. Perhatian dan sayang bukan soal materi saja. Kondisi fisik dan mental anak. Mau itu anak usia SMP, kalau orangtua menyadari ada kelainan, atau tanda-tanda yang berbeda dari anak seumurnya, bergegaslah wahai para ayah, karena sang ibu seringkali hanya bisa mengingatkan, tapi si bapaknya yang memutuskan apa yang harus dilakukan. Karena ada hal-hal yang anak itu tidak bisa menyadari sendiri keadannya, tapi orang lain melihatnya. Kelainan saya ini sama sekali tidak saya ketahui ketika masih SMP, dimana awal mula terjadinya. Sma dan kuliah mulai terasa, dan orangtua saya hanya bertanya, yang bahkan saya sendiri tidak tahu. Ibu saya yang lebih memerhatikan, namun karena kondisi finansial yang tidak memungkinkan untuk tes kesehatan pada saat itu, dan bapak yang jarang menemui saya, maka dibiarkanlah sampai sekarang karena saya pikir ini bukan suatu kelainan yang menghambat aktivitas sehari-hari. Baru sadar sekarang kan. Dan buat anak-anak yang baru merasakan dampak dari kurangnya perhatian orang tua terutama ayah, semoga tiada kebencian pada mereka karena bagaimanapun, tidak ada istilah mantan ayah.

31.1.16

Looking Things at the Bigger Picture.

January 31.

Pagi tadi, lupa minum garam beryodium lagi. Gondok kambuh.

Ini dalam rangka ‘meningkatkan happiness index’ tetangga-tetangga untuk melaksanakan senam pagi rutin. Amanah ketua RW baru khusunya kepada karang taruna yang ditunjuk sebagai leading sector. Entah ini dalih supaya ‘anak muda’ hanya dikerjai sebagai ‘tukang panggul’ saja atau memang dikerjai karena dianggap energi anak muda masih banyak ketimbang yang tua-tua. Ditinjau dari maksudnya memang baik, guna keharmonisan warga dan mengenal karang taruna. Namanya kerja sosial, di lapangan mah tetep saja enggan diperbudak layaknya kerja professional. Kecuali kita digaji dan asuransi. Minimal ‘uang rokok’, begitu kata orang sini, tapi saya bukan perokok. Ada motivasi selain hanya ‘agar dikenal masyarakat’. Cliché. Tapi pak komandan sepertinya tidak tahu kondisi sebenarnya. Apa yang terjadi dengan kami anak-anak muda di sini akhir-akhir ini.

***

Pagi tadi, sehabis subuh dan masih remang-remang, kiclik-kiclik saya berkunjung ke Ustad Yayan, yang pastinya seorang ustad, tapi dia jadi kepercayaan buat penitipan peralatan sound system untuk kegiatan-kegiatan RW. Urgensinya adalah pasti ngangkut-ngangkut peralatan itu ke spot senam pagi. Kira-kira ada 6 item yang harus dibawa sejauh 300 meter yang idealnya dibawa minimal oleh 2 orang. Belum lagi pemasangan panggung ukuran 2x2 meter yang partisi-partisinya banyak dan lebih berat. Kalau ada yang dipasang, tentu ada yang dibongkar dong? Ya, saya harus melakukan itu dua-duanya. Tapi tadi itu, saya sendiri. Mengangkut box-box besar tanpa gerobak alat bantu tanpa teman tanpa upah tanpa ada tawaran bantuan dari yang melihat. Kuat kan? Iyalah sarapan dulu kan sama ati. Begitu selesai angkut-angkut sound, barulah 2 bapak-bapak yang ikut bantu bawa panggung buat instruktur senam. Lalu beberapa jam setelahnya banyak pertanyaan basa-basi yang seolah-olah hanya untuk menghibur saya tapi terdengar seperti menyalahkan dan menjudge. Dijudge dan disalahkan setelah berbuat sekuat tenaga masuk kategori 'hal yang tidak disuka' versi saya. Kodrat laki-laki biasanya seperti itu. Bunyi pertanyaan-pertanyaan itu seperti ini :

“Kenapa gak ngajak yang lain atuh?”
“Anak karang taruna yang lain pada kemana? Sampeur ke rumahnya atuh!”
“Lain kali minta bantuan sama yang lain,, jangan sendiri!”

***

Lalu dengan mencoba senyum, saya jawab dengan lantang.
“Sudah dikabarin, Pak! Di grup (media sosial), bertemu langsung juga sudah.” Saya anggap itu cukup, plus harapan mereka adalah manusia dewasa yang sudah tahu tanggung jawab dan tidak perlu diingatkan apalagi digiring macam itik pulang ke kandang.
“Masih pada tidur, Pak! Disampeur juga gak ada yang keluar.”
“Lha udah, Pak, Bu!” (kalau saya tega dan agak tidak sopan, bisa ditambahkan dengan : “Mangga atuh bantuin bu, pak, jangan sekedar nyuruh saja.”)

Lalu obrolan itu hanya berakhir dengan senyum yang terpancar dari wajah mereka. Entah bagian mana yang lucu. Heran, kalau saya niatkan melucu, seringkali tidak lucu, garing. Giliran tidak melucu, orang senyum. Sense of humor yang aneh. Menawarkan solusi saja tidak. Makin aneh.

Nah, soal saya tidak dibantu tadi itu, bagi sebagian orang mungkin menilai saya tidak pandai me-manage SDM. “Anak muda di sini kan banyak, kok maneh doang yang kerja? Kasian. Gak bisa mimpin?”. Sudah sering selentingan macam itu saya dengar. Wah kalau saya tulis kesulitan memanage SDM terlebih untuk sosial seperti ini, bisa jadi novel, sob. Jaman sekarang, berapa banyak sih yang mau capek-capek buat sesuatu yang gak dia dapet terutama materi, yang dipercaya sebagai alat tukar membeli ‘kebahagiaan’? Kalau seorang leader harus persuasive, nah persuasif macam apa yang bisa dijadikan umpan buat mereka yang mencari timbal balik atas apa yang dilakukannya? Macam apa?!! I’ve been 3 years dealing with that things dan sudah pada tahap buntu. Sekarang ditambah instruksi ini itu dari pak komandan. Makin aja pada males lah kita juga. Banyak maunya tapi sedikit apresiasinya? Ya kan?

Soal habit. Kebiasaan. Bangun pagi buat mereka, teman-teman saya di karang taruna, itu kalau bermanfaat baginya, pasti dijabanin. Mau cuma tidur 2-3 jam saja karena begadang malamnya, tapi kalau mereka tau bakal dapat sesuatu yang ‘membahagiakan’, bukan ‘melelahkan’, itu pasti diusahakan bangun pagi. Saya yakin itu! Misalnya pagi-pagi hendak jalan-jalan ke tempat seru, gratis, dan senang-seang. Oh itu jelas massa membludak. Orientasinya bukan lagi memenuhi tanggung jawab sebagai karang tarunanya sebagai bagian dari masyarakat situ. Tapi hal yang sifatnya memberi timbal balik. Bahkan, maaf, bukan lagi menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yang harusnya solat subuh. Apakah mereka yang bangun siang itu solat subuh? Apakah mereka tidak mau menjemput rezeki yang ada sebelum matahari terbit? Ya itu urusan dia sama Yang Di Atas. Saya sih husnudzon, bisa saja mereka bangun sampai jam 5, solat subuh, baru tidur bablas sampai jam 2 siang. Atau memang jam 6 itu bangun buat solat, lalu tidur lagi. Setelah itu, urusan membantu saya buat ngankut-ngangkut ini itu yang melelahkan, ya mana mereka pedulikan. Di benak mereka, itu semacam ‘menghukum’ saya dan saya patut menerima konsekuensi karena menerima perintah pak komandan. Mereka tiada urusan soal itu. Peduli amat toh tidak direncanakan bersama-sama. Ditambah konflik akhir-akhir ini yang kian memperburuk hubungan pertemanan di wilayah ini.

***

Yang bikin penyakit gondok makin kambuh adalah, kami ini, yang katanya dinamai karang taruna, Yang secara hierarki sejajar dengan lembaga di lingkungan, dan punya otoritas sendiri, masih saja disuruh ini itu. Kondisinya tadi itu yang di sana cuma 2 orang ( saya sama si Shinta, itu pun bukan warga RW situ, tapi mau saja bantu), Well, pak komandan bahkan agak membentak si Shinta itu karena katanya tidak professional mengurus absen. Lalu disuruh lagi membagikan air minum, menghitung absen, menghitung kencleng. Inikah yang dinamakan Leading Sector? Pemimpin/koordinator kan? Yha suka-suka kita dong, da kita juga percaya itu benar. Tapi kok kita jadi yang diatur? Diperintah sana sini seperti karyawan. Lucu sekali. Saya yakin model kepemimpinan seperti ini tidak akan bertahan lama jika diterapkan pada anak muda di sini ke depannya. Let see.

***

Saya tidak lelah karena angkut-angkut barang-barang tadi. Buat saya itu remeh-temeh. Laki-laki harus kuat. Fisik sama mental. Fisik sudah pasti, laki-laki diberi kelebihan disbanding perempuan. Kalau lembek mental, mangkal saja di veteran atau jadi boyband. Yang buat saya lelah itu ternyata perkataan-perkataan. Bapak ini, bapak itu, ibu ini, teteh itu. Syung meluncur bak rudal kapal selam tanpa dipikirkan dulu maksud perkataannya. Pak komandan gak mau kalah komentar.


Biar energi masih banyak, kalau digenjot terus dengan komando seperti itu enek juga. Itu beberapa suara dari orang-orang. Either he expects too much or he accelerated too much at the beginning. Macam ejakulasi dini. Kenceng banget di awal ujung-ujungnya terasa bikin capek ternyata. Ini masih tahap awal lho, pak. Bapak memang gesit, saya akui itu. Tapi bapak menghadapi manusia-manusia yang berbeda karakter, ego, bahkan suku. Jangan samakan. I used to be like that and ended up with disappointment. Padahal saya berbahasa sama,  suku yang sama, dan setidaknya lebih paham karakter lah dari bapak. Hormati ke-heterogen-an yang ada. You can’t control people. Gak ada yang jual remote controlnya.

Ha ha...

25.1.16

Titip Pesan

Tak pandailah aku berkata soal cinta yang kucoba tanam pada seseorang perempuan. Tak pandai pula aku berperilaku layaknya orang mencinta karena menyampaikan dengan lisan saja bisu tutur kata. Aku bahkan belum tahu caranya memaknai cinta pada perempuan yang terkasih karena seringkali yang kudapatkan hanya kekecewaan ketika aku mencoba menelaahnya, mencicipinya, bahkan sampai memperjuangkan perihal sesuatu yang aku percayai bahwa itu cinta.

Tulisanku ke belakang tentang perasaan ternyata hanya luapan emosi tidak tertata yang menjadikannya kekanak-kanakkan untuk dibaca. Perempuan yang identitasnya kucoba samarkan namun seolah menyinggung sebuah nama dan membuat kisah itu seolah ingin terbaca olehnya, sungguh selayaknya tidak kulakukan. Tidak ada pesan untuk disampaikan pada yang dimaksud. Hanya luapan emosi karena kekecewaan saja. Bukan sebuah pesan cinta, rasa, kasih, yang bisa disampaikan oleh sebuah media tak kasat mata yang aku percayai akan membawa pesanku padanya. Tidak ada.

Lalu dengan berbagai rentetan kejadian, kekecewaan, pedih peri yang diakibatkan harapanku yang terlalu tinggi ini, yang belum bisa mengatur rasa pada perempuan yang didamba, kutanya pada kalian, apakah ada lagi manusia malang di sekitarku yang masih menyimpan kasihnya pada satu orang saja yang berkali-kali memberimu pil pahit kekecewaan? Berlari dan berkelana tiada bedanya. Sama-sama pelarian dari kekecewaan dan harapan seakan-akan di luar sana akan ada yang mau menerima cintanya, daripada memberinya kecewa. Satu orang saja. 

Dalam doa terdapat rangkaian kata-kata yang barang tentu jelas maknanya. Aku ini, bahkan dalam berdoa dan mendoakan saja tidak terbiasa dengan tartilnya bibir berucap. Tembok-tembok dalam hati saja yang kugedor-gedor berontak. Dalam gaduhnya dinding hati itulah tempat do'a-do'a itu aku ucapkan jelas pada Tuhan yang aku percaya mendengar sekecil apapun bunyi dinding itu.

Selama ini, aku hanya berdoa, sudah cukuplah, kau, perempuan terkasih yang halus tutur katanya dan baik budinya, cukuplah melibatkan aku dalam pandanganmu. Palingkanlah matamu ke arah lain jika memang enggan padaku, karena sudah sejak lama aku (berusaha) berpaling, semampu yang aku bisa. Biarlah silaturahmi kita terputus dalam waktu lama, dalam keadaan kita tidak saling membutuhkan apa-apa sau sama lain, agar aku bisa melaju ke arah yang kuyakini di sana tidak akan menemui kekecewaan yang kau buat tanpa kau sadari, kasihku. Janganlah menyampaikan lagi satu dua kata padaku jika itu tidak terlalu perlu. Berhentilah berinteraksi di dunia maya yang justru aku harapkan kau melakukan itu dalam nyata. Semata-mata arena aku takut aku kembali terperosok dalam urusanmu, yang aku percaya membawa kutukan kekecewaan di akhirnya, namun anehnya aku selalu ingin kembali padamu, keseharianmu, kesedetikanmu, hingga redup amarahku padamu.

Berdoalah denganku, kasihku. Berdoalah dengan maksud yang sama denganku. Agar Tuhan sama-sama membantu kita untuk saling memalingkan arah tujuan hati kita masing-masing, jika memang kita tiada harus dipersatukan. Berdoalah dan berbuatlah sekuat mungkin untuk menjauh, meskipun aku tahu kau telah menjauh tanpa pernah kuminta dan memang Tuhan berikan jalanmu untuk begitu. Jalan yang sangat jauh sampai lewat batas pandangku. Untukku pribadi, semoga Tuhan menghilangkan segala rasa dan asa harapanku tentang suatu masa di mana aku mampu bersatu dengannya dalam ikatan suci itu, yang terlihat seperti hal mustahil, seorang pria berlumur dosa mendapat jatah perhiasan terbaik di dunia. Karena mengharapkan hal itu jauh lebih memperkuat dobrakan dalan tembok hati yang semakin dipukul akan semakin tebal rasanya. Biar Tuhan yang menuntun kemana langkah ini pergi. Aku tidak peduli, asal aku terbebas dari kecewa, asal aku sampai pada tujuan di mana cinta itu tiada kecewa. Setelah semua yang aku terima selama ini, aku berharap kita tidak pernah mengenal satu sama lain, kasihku. Tiadalah guna jika kita tidak saling memberi manfaat satu sama lain tetapi malah menyakiti satu sama lain. Jika Tuhan memang mempertemukan kita satu sama lain untuk membuat kita belajar mengenal rasa kecewa dan pulih setelahnya, aku mohon Ya Allah, selesaikanlah semua ini. Jika pertemuan ini harus diakhiri dengan pahit, pahitkanlah sekaligus tanpa harus dipertemukan kembali barang hanya 1-2 detik. Sesungguhnya tiada maksud hati untuk menghinakan kehadiran perempuan terkasih ini di kehidupanku. Tiada niatan sedikitpun. Namun jika Tuhan mempertemukan kita untuk suatu hal baik, dan tertulis di Lauh Mahfudz, sungguh aku berdoa semoga pada-Mu agar aku merasakan makna cinta sedalam-dalamnya dari seseorang yang memang aku kasihi dalam diam selama ini.


21.1.16

Khutbah Kacang Goreng

Januari 22. 12.20 WIB

Habis jumatan di sebuah masjid dekat rumah di Bandung. Al Ikhlas namanya. Masjid ini sudah ada sejak saya lahir dan pendirinya adalah Bapak H. Oman (alm). Beliau adalah ulama yang saya kagumi ketika masih mengaji dulu di sana bersama kawan-kawan sebaya. Ditemani Mas Muhammad, yang amat keras dalam mengajar, berlawanan dengan sifat Pak Oman ini yang sungguh kalem dan sabar pembawaannya dalam mengajar ilmu-ilmu Islam. Saya hanya mengenal 2 orang pengajar ini karena SD pindah ke desa. Di desa di Pangandaran, saya bersyukur ‘dibekali’ ilmu agama yang cukup, meski ada penyesalan kenapa tidak lebih banya. Di sana dibimbing Pak Solihin dan keluarganya dari awal buta huruf sampai hafalan Qur’an, solat-solat, Murottal (lagam), dan lainnya. Lingkungan yang islami juga sedikit banyak menempa saya agar jadi orang yang agak bener dikit. Ha ha. Lalu kembali ke Bandung ketika SMP dan saat itu entah kenapa agak segan untuk mengaji lagi di masjid ini meskipun pengajarnya masih sama. Maka saya pindah ke masjid lain di sebelah utara yang jaraknya agak jauh. Di sana dibimbing A Ndep, yang seringkali diledek anak-anak dengan sebutan Ustad Jet li karena wajahnya yang mirip Jet Li tapi ngomong Sunda asli. Singkat kata, dari 3 masjid berbeda, saya mendapat keyakinan bahwa Islam itu Rahmatan Lil ‘Alamin.

Kembali ke masa kini, saat ini, beberapa saat setelah saya jum’atan di masjid yang sama untuk yang kesekian kalinya, ternyata, banyak hal telah berubah. Bangunan, akses jalan, penerangan, fasilitas, guru-guru, murid, dan kegiatan keagamaan lainnya kecuali satu hal : kualitas khutbahnya.

Dulu saya berpikir bahwa badan ini tak ubahnya seperti HP. Both mentally and physically need to be charged. Perlu di-cas, kata orang sini. Fisik yang lelah bisa dicas dengan istirahat. Sedangkan mental ini berhubungan dengan nurani, hati, pola pikir, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keyakinan. Kalau boleh saya tekankan pada kata : Iman. Ya, ngecas Iman. Tetapi, makin ke sini, saya sadar bahwa Iman ternyata tidak seperti baterai HP, karena jika baterai sudah kadaluarsa, lalu diganti dengan yang baru, itu berarti saya menganalogikan keimanan yang bisa diperbaharui jika beralih kepercayaan/keyakinan. Jadi sekarang saya menganalogikan keimanan seperti tembok rumah saja. Yang membentengi kita dari panas dingin kehidupan namun bisa ditebalkan/dilapis kembali seandainya terkikis.

Di zaman sekarang yang arusnya sangat kencang dan panas yang amat terik, namanya tembok tentu bisa makin cepat terkikis. Perlu semakin sering ditambal dan diperbaiki. Tidak hanya itu, kualitas tambalannya pun pasti yang anti bocor lah. Nah, kalau isi khutbah standar ‘kacang goreng’ masih saja dipertahankan di masjid-masjid seperti masjid Al-Ikhlas ini, apakah sanggup menambal tembok-tembok rumah banyak orang dengan hanya satu pertemuan di setiap jum’at ini? Khutbah kacang goreng yang saya maksud di sini bukan semata-mata menjelekkan atau mendustakan agama Islam, bukan! Naudzubillahimindzalik! Tapi lebih ke kritik pada para khotib untuk lebih memperhatikan konten dan kualitas materi yang hendak disampaikan di pertemuan yang jarang ini, moment Jum’atan ini.

Here’s the thing. Setiap saya menghadiri jumatan di lingkungan tempat tinggal saya, atau pengajian-pengajian tabligh akbar, seringkali yang saya dapatkan dari penceramah adalah himbauan. Himbauan untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT, beriman, mengikuti perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW, supaya kita selamat dunia akhirat lalu masuk syurga. Beberapa diantaranya bahkan disampaikan dengan bahasa daerah. That’s it? Yup that’s it. Gitu doang. Memang ada beberapa improvisasi tapi pesan utama seringkali HANYA seperti itu. Itulah yang saya sebut khutbah kacang goreng. Kemudian saya lihat respon para hadirin siding jum’ah rahimakumullah lainnya. Ada yang mendengarkan, lebih banyak yang ngobrol, lebih banyak lagi yang tidur, lalu bangun ketika sudah mau berdoa di khutbah ke-dua, bahkan ada yang bablas sampai hendak solat. Itu orang tua, yang harusnya lebih dewasa dengan mendengarkan dan mencontohkan pada remaja dan anak-anak malah tidur. Jadi jangan salahkan anak-anaknya juga malah ikut ngobrol lebih bising, pukul-pukulan, bahkan ketika solat, masih saja pukul-pukulan dan berkata-kata kotor. Lalu apakah anak-anak yang muda ini akan tumbuh kembang, dewasa, dan tua dengan didikan seperti it terus menerus? Oh come on! Kerja samanya hey para orang tua!

Jarang sekali saya mendengar khutbah jumat (khususnya) yang membahas bagaimana mendidik anak ala sahabat Ali bin Abi Thalib, misalnya. Atau tentang pergaulan anak muda, menikah, taarufnya, rumah tangganya Rasulullah, peringatan akhir zaman, dajjal, penemu-penemu Muslim, Al-Qur’an yang membahas sains dan teknologi, dan lainnya yang bukan lagi khutbah ‘kacang goreng’ atau ‘bala-bala’ lagi. Ada yang memang berkualitas tapi hanya di acara tertentu saja yang mubalighnya didatangkan dari kota mana lah. Memangnya mubaligh sini gak bisa seperti itu? Yha bisa lah wong tinggal mau saja. Sumber-sumber dakwah bisa dari Tafsir-tafsir Quran yang sudah modern dan mudah dipahami, hadist-hadist, ceramah ulama besar di website-website yang sudah ditranslate, dan buanyak lagi. Itu semua adalah sebagian saja cara penyampaian yang diharapkan membuat hadirin menjadi semangat berbuat baik beramal sholeh, yang membuat orang menemukan ‘oooh ternyata gitu’-nya masing-masing, yang membukakan pintu-pintu ilmu yang selama ini tertutup karena ketidaktahuan dan kemalasan mencari tahu mencari petunjuk. Soal bahasa penyampaian, terserah, bahasa daerah atau asing atau Indonesia sah-sah saja, asal kontennya itu tadi. Toh tujuannya sama : agar hadirin dapat petunjuk tentang bagaimana sih tindakan realnya dari bertaqwa dan beriman? Gimana sih mengaplikasikan keimanan dan ketaqwaan dalam bentuk tindakan sehari-hari, sikap, dan sifat individu maaing-masing supaya mendapat surga Allah SWT itu tadi.

Masjid ini umurnya memang sudah tua dan apa-apa yang sudah tua biasanya mati lalu ditinggalkan. Fisiknya boleh tua, tapi jiwanya tetap segar dengan pembaruan-pembaruan, perubahan yang agak berani keluar dari adat istiadat, radikal, dan bahkan ada kemungkinan ditolak. Maaf kalau salah dan sok tahu, karena setahu saya, Rasulullah pernah bilang dan diriwayatkan dalam sebuah hadist kalau satu saat nanti aka nada masa di mana orang teguh akan agamanya seperti memegang bara api. Seperti orang takut, asa-asa kalau kata orang Sunda bilang. Asa-asa kalau memulai dengan salam ketika bertemu orang. Asa-asa kalau mau makan di kondangan sambil duduk, asa-asa kalau mau berhenti rapat untuk solat berjamaah bersama, asa-asa mau jadi muadzin, dan perasaan takut lainnya yang disebabkan karena kurangnya dorongan, motivasi, dan juga petunjuk melaksakan itu semua. Toh kalau motivasi dan petunjuk itu disampaikan pada setiap majlis ta’lim tentu impactnya bisa lebih besar dari sekedar himbauan kacang goreng tadi yang sudah barang tentu semua umat muslim menyadarinya.

Jum’atan ini adalah momen terbaik menyampaikan ilmu dan petunjuk yang selama ini belum banyak diketahui, atau pun sebagai reminder jika seseorang khilaf. Jemaah yang berbondong-bondong ke masjid, serempak seluruh kota, di tengah kesibukan. Maka di situ, target pencapaian mempertebal keimanan seseorang setidaknya bisa tercapai. Atau gausah muluk deh, buat khutbah itu menjadi menarik saja sudah cukup. Sejatinya khutbah itu obat hati, bukan obat tidur.

***

Tulisan ini saya khususkan sebagai bahan instrospeksi diri pribadi, bukan untuk memperdebatkan soal keyakinan masing-masing pihak yang merasa di-summon atau disenggol oleh tulisan ini. Agama itu letaknya di dapur. Begitu kata Cak Nun. Kalau saya dikomentari : "Yah kenapa bukan kamu saja yang ceramah!", maka saya jawab saja "Asal bapak-bapak dengan murah hati mau mendengarkan anak muda yang agamanya saja belum tentu lebih baik ini dari bapak-bapak sekalian, maka saya mau." Tapi adat di sini kan selalu hormat pada orang tua dan yang muda nanti dulu saja. Orang tua selalu pandai, dan yang muda tau apa.

***


Islam itu datang dalam keadaan asing, dan kembali dalam keadaan asing pula. Berbahagialah orang-orang yang terasing.

18.1.16

Lagi-lagi Soal Ngurusin Orang.

We are not too far away from that age when singularity will come into reality. Just a matter of time. Jadi, saya tidak meragukan akan sebuah teknologi yang bisa membuat ide yang terlintas di kepala baik berupa thoughts (pemikiran), ideation sketch (sketsa, gambar, image board), fantasy, daydreaming (lamunan), dan segala isi kepala, akan bisa dengan mudah dicatat/didokumentasikan/direkam saat itu juga dalam sebuah alat/aplikasi/system/cloud supaya mempercepat proses brainstorming. Misalnya sekarang, saya nulis blog sambil mikir. Biasanya, proses mikir ini yang kelamaan, overthinking katanya. Dan ujung-ujungnya ga jadi nulis. Coba kalau ada teknologi itu tadi. Saya jadi tidak usah mengingat-ngingat kembali kejadian-kejadian kemarin yang terlewat yang ingin saya tulis di sini.

***

Januari Awal.

Saya sudah merasa tidak kerasan berkeliaran di sekitar rumah di Bandung terutama tetangga-tetangga. Ditambah beberapa hari kemarin juga tersungkur nambru di tempat tidur, di kamar, karena ngecharge badan yang baterenya habis dipakai rapat sampai larut, kesana kemari, ngerjain ini itu sendiri karena meminta bantuan di media sosial (yang katanya memudahkan) malah seperti monolog, atau ngomong sama tembok. Lebih parah bahkan, karena tembok saja bisa membalas dengan gaungnya. Ini sama sekali tidak.

Intuisi saya biasanya selalu berkata benar. Saya percaya intuisi/naluri saya hampir 90% bahkan sejak usia 8-9 tahunan. Intuisi saya saat ini boleh dikata kurang sedap, bahkan seringkali saya merenung lama karena ini. Masa-masa saya dihormati, atau setidaknya didengar, dalam kapasitas saya sebagai ketua karang taruna sepertinya sudah di ujung tanduk. Saya bisa merasakan auranya. Ketidakkompakan, kabar yang tidak pernah saya dapat baik itu bahagia, duka, senang-senang, atau lainnya. Manusia itu aneh. Ingin berubah tapi tidak mau diubah. Ingin teratur tapi tidak mau diatur. Kalau sekarang saya dibilang tidak becus meng-handle SDM dan organisasi, yes saya akui dan saya tidak akan mempermasalahkan pembicaraan-pembicaraan di belakang saya lagi. Toh orang-orang yang berkata demikian tidak akan paham posisi saya, begitu juga kondisi di dalam organisasinya. Nah kalau seorang pemimpin sudah dirasa tidak lagi dibutuhkan, untuk apa mengupayakan, kan?. Sok lah silakan kembali lagi seperti dahulu saling tidak mengenal, tidak ada lagi kegiatan-kegiatan sosial anak muda, dan silakan nyanyi-nyanyi sampai larut malam tidak aka nada yang melarang lagi. That’s fair enough.

Prediksi saya, ini karena selama ini saya dianggap cenderung terlalu ‘serius’, disiplin tinggi, banyak aturan oleh sebagian orang. Hey, asa saya pun pernah bercanda-canda dengan kalian kan? Atau memang karena sudah jenuh dan seperti rollercoaster yang mau ke atas lagi, kalau hanya saya yang mendorong, berat. Atau mungkin karena beberapa diantaranya pernah merasa tersinggung dengan perkataan saya dan tidak mau angkat bicara di depan saya. Well, orang Sunda itu melankolis. Cengeng. And they tend to exaggerated it. Berlebihan. Seringkali saya sesalkan itu. Maka tidak usah komplen kalau sekarang RW sendiri saja dipimpin keturunan Jawa Tengah. Yang memanggil saya dengan sebutan Mas, padahal saya maunya disebut Kang, atau Mang. Tapi semua warga setuju dengan pemimpin baru itu karena beliau amat vocal, tegas, disiplin. Beda dengan bapak-bapak sunda di sini. Bisanya hanya berkomentar-komentar yang obvious, yang orang lain juga sudah tahu, identik dengan telat, lelet, santai, dan yang lesu-lesu lainnya. Memang ada yang vocal, cerdas, tapi begitu disuruh memimpin, takut. Takut urusan duniawinya keteteran, pekerjaan, bisnis, liburan, dll. “Say amah di belakang aja, di balik layar”. That’s bullshit! Ha ha. Yakin saya, perkataan itu tidak akan berlangsung lama. Komitmen di balik layar hanya dalih agar lepas dari tanggung jawab dan yang seperti itulah mental-mental lembek, serba takut jika diberi tantangan dan tanggung jawab. Yah, memang itu dampak dari geografis kota ini yang menurut saya terlalu nyaman dan membuat penghuni aslinya terlena dengan kenyamanan ini, sampai tidak sadar rumahnya sudah dikuasai orang luar. Ha ha.

***

January 17

Romi, seorang teman seperjuangan, sekelas di SMP, sekelas di SMA, sekampus, se-geng sepedaan, sekelas sekolah pra nikah (yang agak impulsive), se-band, senyambung-nyambungnya waktu ngobrol, kini sudah melepas status lajang. Bahagia campur terharu sih ngeliatnya. Notabene cukup tau lika-liku hidup dan percintaannya dari SMP karena memang sering bertukar pikiran soal masalah perempuan. Terlebih waktu ikut SPN Salman. Mulai kemarin, apa yang dia dapat di sekolah itu sudah mulai dipraktikan sepertinya. Doaku untuk mereka yang sama-sama baik dan tepat, Insya Allah.

Now, what?

Di dinding kamar masih ada satu future plan spekulatif ketika masih di bangku kuliah tingkat 2. Di sana tertulis bahwa tahun 2016 ini saya merencakan menikah. Urusan sama siapanya saya belum tahu. Ha ha ha. Wongedhan.

Motivasi? Ibadah lah pastinya. Karena Allah. Lainnya, personally, saya takut. Takut gak kuat iman kalau tidak menikah. Boys know that. Namanya iman manusia umat-umat akhir zaman mah kan naik turun. Mau saya sih selamat dunia akherat. Semua juga seperti itu kan? Opsinya, kalau bisa tahan gejolak hawa nafsu pake iman yang kuat, ya nikah ae biar halal.
Kalau orang ngeliat saya mana keliatan siap menikah, ya memang belum siap. Ha ha ha. Dan kalau saya tanya ke tiap calon mempelai kalau ditanya siap enggaknya ya mostly they said they haven’t ready yet. Tapi kalau percaya bahwa semesta mendukung, Allah mendukung, ya pasti diyakinkan. Insya Allah.

Bukan perempuan yang sempurna, tapi yang tepat. Begitu kata Ustad Salim A Filah. Kalau belum nemu, katanya sih Solah Dhuha, minta dibukakan pintu rezeki dan jodoh. Lalu  Solat Istikharah. Nah ini. Karena menyerahkannya pada Yang Ngasih, kalau sekarang punya kecengan, harus diikhlasin. Rada beurat tah. Jadi terkadang, doanya diplesetkan: “Kalau dia bukan jodohku, maka jodohkanlah.” Memang istikharah itu solat dengan maksud ‘minta yang agak maksa’ but Allah loves that tho’. Tapi yang betulnya memang “Kalau bukan jodohku, palingkanlah ia dariku, palingkanlah aku darinya”. “Kalau dia baik untukku, dekatkanlah, kalau buruk untukku, jauhkanlah”. Mengesampingkan hawa nafsu itu susah meureun. Da ai yang cantik mah tetep mau. Tapi kalau mau dipilihkan yang oke, ya memang kudu diserahkeun ka Nu Kawasa.

***

Lagi-lagi soal ngurusin orang lain. Emang orang lain peduli dan ngurus lu juga, Dhy? My? Yas? Atau apapun nama panggilan lu.


1.1.16

Insiden Pak Brutus, seorang alkoholik yang sedang kritis

Selamat datang pada sebuah masa di mana kebaikan/keburukan adalah suatu relativitas yang tidak lagi diukur oleh norma adat, sosial, atau norma agama sekalipun. 

Hampir semua orang sepertinya berniat untuk melakukan perubahan dalam dirinya semenjak pergantian tahun masehi. Hari yang baru, tahun yang baru, jiwa yang baru, semangat yang baru begitu katanya. Buat saya kedengarannya klise. Bahkan saya menganggap malam tahun baru seperti malam biasa saja. Pergantian kamis ke hari jumat kemarin itu seperti pergantian hari yang biasanya terjadi. Nothing special. Meskipun malam tadi saya habiskan meramaikan acara di tetangga, tapi tetap saja saya anggap bukan sesuatu yang harus dirayakan besar-besaran atau hura-huraan. Such a waste of time.

Kalau harus menunggu tahun baru untuk re-charge semangat, duh, kelamaan om, mbak. Recharge semangat bisa tiap hari toh? Contoh mudah ya dengan tidur tidak larut malam dan bangun pagi. Itu menurut saya. Nah kebayang kalau manusia harus menunggu momen hura-hura sebagai dalih refreshing hanya untuk me-recharge semangat. Habis materi duluan gitu mah.

Masih soal tahun baruan. Ada fenomena yang aneh pada satu malam itu. Identitas manusia seakan menjadi bias. Laki-laki dan perempuan yang menyatu bahkan tanpa batasan yang jelas. Melebur, menyatu dalam euphoria kemegahan ‘malam tahun baru’ di benak masing-masing. Bahkan orang tua yang mendorong anak-anaknya yang umumnya remaja agar ‘gaul’ menurut definisi mereka. “Gak taun baruan, Nak? Seru-seruan atuh jug!” Salah? Benar? Menurut mereka bisa jadi suatu kebenaran. Menurut saya kesalahan fatal. Relatif. Mereka mengukur kebenaran itu indikatornya adalah perkembangan zaman, kesetaraan gender, sekularitas. Indikator saya adalah norma agama.

Mabuk-mabukan, judi, begal, geng motor yang ikut serta ‘memeriahkan’ malam tahun baru menjadi hal lumrah dan mayoritas dari kita semua seolah disuntik mati melihat kondisi itu padahal kejadiannya dekat dengan kita. Kita tidak mencegah dari tahap paling awal. Kita disibukkan mengatasi akibatnya yang makin ke sini makin sulit diurai. Pencegahan tahap awal itu dari keluarga. Dan itu ditentukan dari bagaimana seorang insan manusia bertumbuh dan berkembang dalam satu lingkungan keluarga. Bagaimana orang tua yang cerdas mendidik akhlak dan pengetahuannya agar ketika remaja, pemikirannya sudah matang untuk bisa menentukan baik buruknya sesuatu didasari atas norma-norma yang ada.

***

Sekarang saya dihadapkan pada satu relativitas ini. Saya tidak membatasi teman. Saya membatasi pergaulan. Saya berteman dengan pemabuk, preman, tukang judi, geng motor. Tapi pergaulan kami dibatasi, mostly saya yang membatasi diri. Beberapa hari yang lalu seorang tetangga, tokoh masyarakat yang memang cukup dikenal di daerah saya mengalami insiden serius. Sebut saja Brutus. Usianya 65 tahun dan berasal dari keluarga kurang mampu. Ia mengalami penggumpalan darah, pecah pembuluh darah dan keretakan tengkorak belakang serius. Dibawa ke UGD rumah sakit terdekat untuk ditangani intensif. Sayang, BPJS yang dimilikinya tidak bisa mengcover biaya penanganan rumah sakit yang meliputi operasi, rawat inap, dan obat-obatan lainnya secara menyeluruh. Penyebabnya adalah indikasi alkohol yang terkandung dalam tubuhnya. Menurut dokter, pihak rumah sakit tidak bisa menerima bpjs jika kondisi pasien adalah sakit/cedera yang disengaja oleh pasien sendiri. Usut punya usut, ternyata menurut pihak keluarga, indikasi alkohol yang terdeteksi pada tubuh pak Brutus itu semata-mata untuk kesehatan pak Brutus itu sendiri. Pak Brutus mengalami insomnia akut dan seringkali, minuman beralkohol adalah obat tidurnya. Dan ketika kejadian, ada kemungkinan korban terjatuh sangat keras atau menghantam benda keras. Saksi satu-satunya adalah korban sendiri dan sampai saat ini masih tidak bisa diajak komunikasi.

Sampai saat ini, biaya yang terbilang besar itu masih belum bisa dicover sepenuhnya oleh pihak keluarga meskipun, menurut keterangan keluarga, rumah sudah digadaikan. Mengupayakan biaya besar dan cepat tidak mudah apalagi jika dilihat latar belakang kebiasaannya. Keluarga pak Brutus tentu tidak mau mendengar sentimen-sentimen negatif dari orang lain yang hendak memberi bantuan. Mereka hanya butuh biaya dan tanpa melihat latar belakang tersebut. Jika dilihat dari segi kemanusiannya, kita semua tentu iba dan merasa ingin sekali membantu, apalagi orang yang kita kenal cukup baik. Tetapi, jika kembali ke norma-norma yang berlaku, terutama norma agama, menolong pak Brutus seolah-olah memberikan legitimasi bahwa menjadi alcoholic itu merupakan suatu kewajaran. Satu sisi kita dituntut untuk menolak segala jenis minuman beralkohol tetapi di sisi lain terbentur rasa kemanusiaan. Saya inginnya bersikap apatis untuk memberi pelajaran bahwa minuman beralkohol nyatanya sama sekali jauh dari kebaikan. Tapi bersikap seperti itu ternyata malah jadi cemoohan karena sebagai salah satu pemimpin lembaga kemasyarakatan, saya dianggap tidak memberi banyak bantuan pada warganya. Ironis dan dilematis.

Sampai saat ini, follow up bantuan ke beberapa pihak yang fokus di bidang kesehatan masih di postpone. Pihak-pihak pemberi bantuan masih ingin melihat kejelasan latar belakang, status kesehatannya saat ini dan kemungkinan-kemungkinan ke depannya.

***

Kuncinya ada pada keluarga. Pendidikan keluarga yang selama ini diaplikasikan oleh masyarakat Indonesia hanya dilakukan atas dasar pengetahuan mereka sendiri. Saya menyebutnya sok tahu. Entah kata apa yang lebih layak selain itu. Karena ketika diberi pendidikan parenting, ada saja yang mangkir dan seenaknya. Padahal pendidikan parenting tersebut didasari banyak kelimuan baik dari segi adat, budaya, sosial, dan agama. Bagi seorang Muslim, pendidikan keluarga ada dalam kitab suci Al-Qur’an dan hadist. Lantas kenapa tidak membaca? Lantas kenapa menjadi sok tahu dan enggan bertanya? Apakah bertanya masih dianggap sebagai tanda bodohnya seseorang? Kalau masih beranggapan seperti itu, dan nantinya masih terjadi lagi seperti kasus di atas, maka jangan salahkan mereka yang sudah merelakan waktu dan tenaganya untuk peduli pada sekitarnya.

26.12.15

Tentang Memberi Kabar

Mungkin sudah cukup banyak yang tahu cerita tentang seorang pemuda yang mengeluarkan gadget mahalnya di dalam kereta penuh sesak semata-mata untuk mendonasikan uang untuk orang yang membutuhkan, tapi orang lain melihatnya sebagai tukang pamer. Saya tidak akan menceritakan ulang. Tapi poinnya adalah, kita memasuki era 'nge-judge' yang hanya didasari terhadap apa yang dilihat oleh mata. Tok.

***

Manusia seolah harus selalu mempertunjukkan apa yang dia kerjakan, apa yang dia dengarkan, bersama siapa, di mana, dan lainnya, supaya ada recognition dari sekitarnya bahwa ia existed. Bahwa dia ada. Kalau sedari pagi tadi saya melakukan itu semua, hilanglah amalnya. Well, definisi ikhlas setiap orang berbeda-beda. menurut saya, kalau itu sebuah kebaikan, dan hanya kamu yang tahu, dan besoknya kamu lupa perbuatan itu, menurut saya itu ikhlas. 

Yang lucu adalah, jika rencana perbuatan, rencana aktivitas, rencana apapun itu yang sifatnya dikerjakan bersama beberapa orang, harusnya gotong royong, tapi hanya kamu yang mengerjakan, itu baru lucu. Apakah dengan mengerjakan semua beban kerja itu sendiri termasuk ikhlas? 

***

Pelantikan RW. Straight to the point saja. Rasa-rasanya tidak perlulah saya menyebutkan hal-hal apa saja yang sudah dilakukan demi menyelenggarakan acara ini. Seharusnya sebelum beraktivitas dari pagi tadi, saya makan garam beryodium biar gak gondok. Dosisnya 4 kali sehari semalam. Pertama, pagi-pagi, pas bikin banner, spanduk, dan lain setelah baru saja bangun tidur. Siang pas bikin komik ini itu. Dosis terbanyak saat sore hari ketika datang ke spot acara, tapi tidak ada siapa2 karena tahu-tahu mereka yang seharusnya membantu malah bepergian entah kemana, katanya karaoke lah. Bukan maksudnya ingin diajak. Atau pundung karena dilupakan. Hahaha rasanya lucu kalau ada yang mengira saya 'pundung' karena tidak diajak acara begitu. Saya mah oke-oke saja jika sesorang memilih orang-orang tertentu karena rasa nyaman yang lebih. Dude,i'm not that childish. Toh kita sudah dewasa dan paham tanggung jawab dan arti menepati janji. Hanya saja, agak mengecewaan jika saya dilupakan janjinya. Dilupakan atau pura-pura lupa impactnya sama saja. Apa sulitnya memberi kabar kalau membatalkan janji mendadak? Ditanya hendak kemana saja tidak dijawab. Tadi itu mendadak sekali , karena mereka sudah bilang 'siap, oke, sip, dan segala macam sinonimnya' dan semua itu seolah meyakinkan saat dikatakan tapi tai banteng saat itu juga. Tanpa ada plan B C D E dan seterusnya saat itu, buat saya, itu bisa dimaafkan, tapi sulit dilupakan. Terakhir, dosis malam dimakan ketika habis isya tadi karena menyaksikan raut-raut wajah seolah tanpa salah. Say salam, hello, sampurasun whatsoever wouldn't be that hard guys. Tapi lihat faktanya, Siapa yang menepati janji dan siapa yang tidak. Siapa yang mengecewakan dan siapa yang dikecewakan. Hanya saja, semua terlalu naif akan ego masing-masing karena beranggapan tidak ada salah yang diperbuat. Hebat. Saya juga heran, kalau kesalahan ada pada saya, saya heran sebelah mananya? Hem.

***

Malam ini saya melewatkan reuni SMA dan rekan kerja. Karena prediksi saya meleset. Saya pikir dengan gotong royong dan SDM yang akan banyak dari sore, persiapan bisa selesai pukul 8. Tapi meleset jauh karena itu tadi. Tapi kan, siapa yang peduli akan hal itu selain saya sendiri? 

***

Pesanku untuk siapapun yang membaca. Jangan membuat orang yang amat peduli, sampai pada titik dimana dia hilang rasa pedulinya.

14.12.15

Bulan Bhakti Karang Taruna 2015

December 12

Jari-jari tangan manusia adalah simbol kehidupan. Saat kau buka telapak tangan kananmu dengan kelima jarinya berdiri tegak, saat itulah kau tahu makna kehidupan sebenarnya.

Saat manusia terlahir, telapak tangan masih terkepal. Kelima jari masih belum mekar menandakan kehidupan baru saja dimulai.

Kemudian manusia bertumbuh dan berkembang. Satu persatu jari-jarinya terbuka.

Jari kelingking yang berdiri tegak, menunjukkan bahwa kita sudah bisa mengurus diri sendiri. Dewasa secara fisik maupun psikis.

Jari manis, merupakan simbol pernikahan. Jari ini tidak akan bisa berdiri tegak jika jari kelingking tidak ikut diangkat. Artinya, untuk memiliki keluarga yang kokoh fondasinya, pastikan kita sudah bisa mengurus diri sendiri dulu.

Jari tengah meurpakan simbol masyarakat. Ketika diri pribadi sudah matang lalu disupport oleh keluarga yang baik, maka tegaklah suatu masyarakat yang madani, yang senergis dan harmonis. Ketika tiga jari terangkat tegak. Maka satu jari bisa ikut tegak.

Telunjuk. Simbol kepemimpinan. Menunjuk, memerintah, memimpin.


Ketika semua jari terangkat, tinggal satu jari yang tersisa. Jempol. Simbol dari peran seorang individu di pergaulan internasional.

Memang sulit dan penuh tantangan untuk menegakkan seluruh jari tangan tersebut secara makna konotatif. Namun setidaknya kita berusaha. Sekecil apapun usaha untuk menegakkan jari, pasti akan terangkat.

***

Itulah sebagian materi kepemimpinan yang disampaikan oleh seorang seniman senior Indonesia, Iman Sholeh di acara Bulan Bhakti Karang Taruna kota Bandung 2015 kemarin.

Beliau juga menyampaikan tentang Wawasan Nasionalisme untuk pemuda-pemudi Indonesia.

  • Baca!
Iqra. Adalah sebuah perintah pertama kali di dalam Al-Qur’an sebelum perintah sholat, zakat, puasa, haji, dan lainnya. Salah satu indikator kualitas pendidikan di dunia adalah membaca. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin cerdas bangsa tersebut. Jadi kecerdasan dan kepintaran bukan hanya diukur dari seberapa tinggi nilai ujian matematika, biologi, fisika, dan lainnya ketika UAS/UTS saja.

  • Tulis!
Syarat untuk bisa menulis adalah tidak buta huruf. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menunjukkan peringkat Negara-negara Asia Tenggara ditinjau dari banyaknya jurnal yang dipublish di taraf internasional. Pakar-pakar di Indonesia masih sedikit sekali yang mempublikasikan keilmuan-keilmuan terbarukan jika dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura. Apa mungkin karena orang-orang Indonesia lebih senang menulis cerita-cerita picisan, romansa, yang isinya hanya kegundahan-kegundahan remaja yang itu-itu saja? Orang Melayu. Suka mendayu-dayu. Kata ERK.

  • Kebudayaan
Ini adalah negeri dengan 860 ragam bahasa. Ini adalah negeri dengan 17.000 pulau dan beberapa masih belum bernama. Sehingga, saya boleh saja menamai sebuah pulau dengan nama sendiri. Ini adalah negeri dengan kekayaan perbedaan, nilai-nilai yang bersifat intangible, yang seharusnya menjadi kebanggaan, bukan pemecah belah.

Contoh kasus :

Saya orang Bandung. Rendi orang Jakarta. Ketika si Rendi berkunjung ke Bandung dan berbicara bahasa betawi, itu bukan suatu masalah. Juga sebaliknya ketika saya memakai bahasa Sunda di Jakarta. Lalu suatu hari Rendi berkunjung kembali ke Bandung dengan mobil plat B. Ia mulai risih karena seringkali disalahkan atas kemacetan yang terjadi di kota Bandung akibat mobil-mobil plat B. Lalu si Rendi kembali ke Bandung dengan memakai seragam Persija. Tiba-tiba ia diintimidasi, dianiaya tanpa sebab. Begitupun saya ketika ke Jakarta memakai atribut Persib. Awalnya dari kekayaan budaya Sunda dan Betawi. Namun mengapa lantas menjadi percekcokan padahal hanya karena seragam? Itulah budaya. Budaya bukan hanya tarian, lagu daerah, bahasa, rumah adat. Dengan kecerdasan berbudaya, pertikaian semacam Persib-Persija tadi tentu tidak harus diturunkan ke generasi-generasi berikutnya. Memang mau, punya generasi-generasi yang tukang ribut? Tidak malu?

  • Skill
6 tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun SMA, namun masih saja ngedumel karena bahasa Inggrisnya kacau. Bahasa Inggrisnya ngacapruk (kata orang Sunda). Dan ketika dia merasa dirinya tidak mampu lebih baik dalam menguasai Bahasa Inggris, dia seringkali mengelak dengan berkata “Ah bahasa Indonesia lo aja belum bener, ngapain belajar bahasa Inggris? Gak usah sok Inggris lah!” atau “Urang mah hirup di tatar Sunda, teu kudu belajar Inggris. Kudu ngejungjung budaya Sunda!” Itu adalah kata-kata tidak dewasa dan pecundang, menurut saya.

MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) dimulai Desember ini. Orang-orang luar Indonesia berhak menjadi pekerja di Indonesia jika bisa bersaing dengan orang-orang sini. Kalau kamu tidak bisa bersaing, tamat. Kamu hanya akan ditinggalkan, tidak dianggap kompeten, tidak diberi kesempatan.

Tidak ada salahnya mempelajari bahasa asing. Justru itu tuntutan era modern. Menyerah mempelajarinya seperti menyerah hidup. Kasarnya seperti itu. Belajar bahasa asing itu bukan hanya kata, tapi berbicara, mendengarkan, dan membaca. Kalau tidak tahu, bertanya! Bertanya! Dan bertanya! Jangan sok tau dan salah makna ketika berbicara dengan orang asing. Maksudnya mau ramah, malah jadi menghina karena salah kosakata. Itu bukan belajar. Itu sok tahu.

Bahasa hanya satu dari sekian banyak skill yang perlu di-upgrade, ditingkatkan. Masih banyak skill-skill lainnya yang bisa ditingkatkan selagi muda. Komputer, mekanik, olahraga, public speaking, leadership, entrepreneurship, dan sebagainya. Cobalah kurangi skill-skill yang membuang waktu, tenaga, pikiran, materi usia muda seperti pacaran, ngegombal, atau cinta-cinta yang belum waktunya. Saya bilang kurangi, bukan hindari. Karena memang, terkadang masa muda pun butuh seperti itu.

***

There was a time when I kept thinking to quit and no longer involved anymore in this kind of organization. Perasaan untuk berhenti dan menyerah pernah datang berkali-kali. Kalau bukan seperti itu, bukan tantangan namanya. Perasaan itu datang bisa karena merasa sendirian, bisa karena tidak didukung, atau karena lelah. Wajar, karena kita hanya sebagian kecil yang masih punya hati nurani untuk menunjukkan kepedulian meskipun di belakang kita banyak pembicaraan-pembicaraan kurang sedap didengar. Well, one of the recipe of happiness is the power of not knowing. Rahasia bahagia adalah dengan tidak mau tahu perkataan-perkataan negatif macam itu. Jalani saja apa yang harus dijalani. Do good things and the good things will come to you eventually. 

Tidak ada penyesalan sedikitpun menghabiskan weekend dalam Bulan Bhakti Karta kemarin mewakili Kelurahan Jatihandap Kecamatan Mandalajati. Manusia normal umumnya istirahat setelah satu minggu bekerja. Tapi saya bukan orang normal. Ketika banyak yang bertanya apa gunanya di Karang Taruna, kamu akan dapat jawaban meyakinkan ketika sudah terlibat aktif di dalamnya. Sudah bukan masanya menganggap karang taruna hanya sekumpulan anak muda pengangguran atau organisasi kolot. Nope! Karang Taruna sudah naik kasta. Sudah keren. Keren parah tanpa obat. Menurutku seperti itu.


Aditya Karya Mahatva Yodha!

Harga dari Rasa Syukur

Beberapa tahun sudah saya coba menutup buku usang ini tempat berbagai kelelahan pikir tertumpah. Ada masa ketika segala kecamuk dalam dada t...