28.5.13

Officially Retired

28 Mei 2013

3 hari lalu saya baca blog si kak laras. Saat itu saya masih di Solo. Pelarian.

Tulisan kak laras sedikit banyak men-trigger saya untuk membuat sebuah tulisan dengan tema serupa dengannya. Tulisan ini saya maksudkan hanya untuk napak tilas tentang apa-apa yang memberi inspirasi belakangan ini atau sebut saja setahun kemarin. Kira-kira sudah satu tahun berselang semenjak saya mendaftar menjadi asisten dosen mata kuliah gambar konstruktif di TPB FSRD ITB. Angkatan 2012. Tulisan ini saya dedikasikan untuk saya pribadi, rekan asdos lain dan mereka.
photoception. sumber dokumentasi pribadi

24 Mei 2013.
Raga saya di dalam bis kelas ekonomi jurusan Jogja-Solo yang penuh sesak dengan keringat. Sementara pikiran tersangkut di Bandung, di koordinat kampus ITB, gedung tpb, ruang dosen, tepatnya di tumpukkan UAS teori gambar konstruktif yang belum saya masukkan nilainya.

Normalnya manusia yang berlibur atau semacamnya pastilah sumringah, pikiran lepas, tau-tau pulang banyak cerita suka-suka. Saya sepertinya bukan yang termasuk golongan itu. Ada beban sendiri ketika mengetahui kalau ada 3 mahasiswa adik kelas yang nilai ujiannya belum dimasukkan ke daftar nilai, padahal itu tanggung jawab asdosnya, padahal itu yang menentukan masa depan mereka, padahal itu keselamatan mereka. Naonsih. Tapi aing serius. Saya berharap saat itu saya tidak di bis ini. Saya harap ada di Bandung. Kagebunshin? Saya mau, tapi sayangnya, kata guru, saya belum boleh melakukannya karena terlalu beresiko bagi jiwanya yang masih rapuh dan belum alil baligunshin. Pun percuma jikalau membelah diri kalau belahan jiwa saja belum ditemukan.

Saya punya rekan. Kiki. Dan mungkin malam sebelumnya dia mimpi ditimpa gajah duduk. Saya mau titipkan tugas ngurus nilai ini ke beliau. Tapi si kiki belum tidur dari kemarin karena bantuin si puri nyiapin pameran yifi. Lagipula dia gak terlalu tahu detailnya. Tapi dia ngurusin juga pagi-paginya. Siang hari dia kebingungan dan saya dicecar sms minta tolong. Hari itu saya bantu sebisanya dari jarak 523 km. Saya hubungi satu persatu tiap anak yg nilainya belum saya masukan. Batas masukin nilai itu jam 2 siang. Beberapa sudah ada nilainya. Sampai jam 4 sore, tinggal 2 orang lagi. Untungnya mereka ngasih balasan sms yg kami harapkan. Nilainya. Dan alhamdulilah kelar. Sisanya, tinggal berdoa itu nilai masuk ke pusat nilai ITB tepat waktu, dan mereka-mereka anak ayam masuk prodi dan surga yang diinginkan.

Belum selesai di situ. Saya masih punya dosa hari itu. Tepatnya hari jum'at, sabtu, dan minggu. Saya melewatkan pameran anak-anak ayam ini. Event terbesar mereka di akhir tingkat satu. Saya tidak sempat ke pameran mereka karena baru tiba di bandung J+10 penutupan pameran. Bagi saya pribadi melewatkan acara penting di akhir adalah tidak sopan. Karena saya mengawali perjumpaan dengan mereka dengan kurang baik dan sekarang diakhiri dengan kurang sopan. Saya memulai tugas sebagai asdos dengan keji. Saya pernah beberapa kali mencoret absen, menutup pintu masuk padahal hanya lewat 2 menit, saya pernah (istilahnya : ngestalk) media sosial lalu mencari2 bocah yang ngeluh2 soal matkul konstruk, lalu saya panggil di kelas, lalu saya sepet-sepet bareng si dika, akibatnya anak itu tak pernah muncul lagi. Belum lagi high pitch yelling waktu pembagian tugas. Keributan mereka mau nyaingin suara saya rupanya.Jadi saja saya kesal sampai tumpeh-tumpeh barking2 begitu.

Stop it before it's getting too attached. Harusnya semester 2 saya berhenti ngasdos saja. Harusnya. Ngapain juga ngurusin anak orang kalo keluarga sendiri kagak diurus. Kasarnya begitu. Tapi ternyata harus lanjut, maka dilanjut saja pake L. Lagian, niat awal saya terjun jadi asdos juga gak ada tujuan pasti misalnya : ngeceng, nyari nilai, nyari temen, nyari babu. Ini lebih karena saya males di rumah gak ngapa-ngapain ya mending ngapa-ngapain asal gak nganggur. Hanya saja terlalu sering berinteraksi di ruangan 40x40 meter persegi itu banyak akibatnya.

Sebut saja dalam satu tahun pertama, mereka punya banyak acara. wisuda 1, kulap, darma wisata, wisuda 2, pameran, dan acara-acara bumbu lainnya. Mungkin karena saya koordinator asdos matkul ini, saya jadi sering kena getah disuruh bantu-bantu acara mereka juga. Dari dosen, dari tatibnya, dari ketuanya, dari siapanya. Awalnya saya malas sejadi-jadinya. Lagi-lagi karena saya banyak memikirkan apa gunanya membantu anak orang kalo merugikan waktu, tenaga, pikiran, dan materi sendiri. Iya saya egois.

Jika dilihat di akhir semester ini, siapa yang betul-betul belajar dan siapa yang mengajar, saya orang yang belajar, dan mereka yang mengajarkan saya. Saya belajar bagaimana cara berkorban, bagaimana cara menolong dengan ikhlas, bagaimana cara tidak egois. Itu mungkin penyebab kenapa saya sering ke gedung tpb. Entah jadi asdos 3D gadungan yang ikut2an nebeng, atau ngobrol-ngobrol ini itu, atau pesan-pesan singkat, atau asistensi karya, atau apapun itu bentuknya. Orang lain boleh menilai selain itu, misalnya ah si ami mah nyekil doang, atau ah si eta mah cari muka. Saya anggap itu kentut kerbau. Berlalu tanpa jejak.

Saya pernah di posisi sebagai mahasiswa baru. Maka saya tahu apa yang pasti dibutuhkan mahasiswa baru, bagaimana masuk ke dunia mereka tanpa ada gap label senior-junior, dan bagaimana belajar menghilangkan gengsi. Di masa saya atau kami 09 sebagai mahasiswa baru, asdos-asdos kami seru, tapi tidak banyak yang berbekas, khususnya matkul konstruk. Tidak pernah ada yang namanya dresscode kuliah, atmosfer lebih seperti wajib militer, mayoritas mahasiswa segan bertanya, akibatnya interaksi obrolan hanya sebatas "kak, asistensi" atau "kak, boleh pake penggaris?". Yang saya rasakan saat itu, kami budak, dan asdos itu julius cesar. Tidak ada suasana kuliah santai seperti pantai. Dresscode pantai lebih tidak terbayang saat itu.

Dari situ, saya tidak ingin kewajiban saya sebagai senior yang membimbing junior itu malah jadi bumerang. Marah-marah pada mahasiswa baru tanpa alasan yang jelas dan tanpa saling mengenal itu durhaka. Marah lah kalau ada yang terlihat salah. Sejatinya seperti itu.

***
Boleh dibilang itu tadi prolog. Panjang. Memang. Karena sangat sulit mempersingkat tulisan yang harusnya ditulis puluhan hari yang ada-ada saja tiap harinya.
Tapi saya rasa ini harus disimpulkan. Kalau saja kemarin saya datang ke pameran mereka, saya ingin berpesan satu hal : Life without passion is unforgivable. Saya lupa itu tulisan siapa dan malas mencari di google. Saya berpesan seperti itu karena memilih jurusan kuliah bukan semata-mata prospek kerja ke depan yang terlihat menyilaukan dengan iming-iming gaji besar atau luasnya lowongan kerja. Bukan itu. Sungguh rugi kalau mencari ilmu karena materi. Aktif di berbagai kegiatan kampus tapi money oriented. Orang seni butuh banyak main. Butuh banyak jahil. Kalau sampai pada satu titik dimana kita bertanya pada diri sendiri "Apa hidup mau begini-begini saja?" maka ubahlah hidup sesuai apa yang diinginkan. Sesuai dengan apa yang kita senangi ketika melakukannya. Bukan karena tuntutan orang tua, bukan materi, bukan asmara remeh temeh, atau pengaruh orang lain. Passion. Menulis itu gampang. Menjalaninya yang susah.

Dengan demikian berakhir sudah acara asdos-asdosan gambar konstruktif ini. Seluruh rekan yang bertugas ingin mengucapkan terima kasih kepada sodari kiki zakiyah partner in crime yang setia pada pacarnya, kepada kalimat-kalimat bullying Dika yang akan sangat dirindu, pada kegarangan mifta saat absen pertama dan kegaringan pada pengumpulan tugas, azhar dengan libidonya yang tinggi akibat perbuatan dika, massur si bule nippon yang sangat banyak membantu di saat genting, alifan sembalap yang ditaksir banyak tpb tapi mereka belum tau aja dalemnya.ha ha. masgun yang menjadi penertib anak-anakseperti tramtib dan berdisiplin tinggi, kak laras si manis berbulu serigala yang hemat memberi nilai, mas kukuh si bapak-bapak berselera muda kadang gila juga :p, mas aji yang so so cool tapi teledor. Trio pak : pak Didi, pak Dani dan pak (yaAlloh aing lupa namanya ini tinggal nyebut susah amat padahal tau). Dan seluruh mahasiswa tpb 2012. Tidak ada khususnya kelas berapa. Semuanya. Sampai kita bersua kamargasatwa di lain hari. 


Dengan ini saya menyatakan pensiun.







16.5.13

Wind-trap-holic

Bukan mahasiswa kalau tak pernah kesamber namanya masuk angin. And it screwed up last night. Jam 3.12 dini hari kemarin itu perut dan otak dikocok. Ketika dituntut untuk memikirkan draft Pra TA dan presentasi UAS 5 jam lagi, perut menuntut kaki berjalan bulak balik WC untuk beberapa tetes kemencretan akibat masuk angin. Belum lagi muntah-muntah yang saya sendiri mau muntah melihat muntahan. Tapi karena sudah muntah, gajadi.
Semua ini dimulai ketika saya mandi malam di hari senin. Setelahnya badan terasa bugar. Tapi malamnya, badan terasa bubar. Rontok. Selasa saya terlentang di ranjang dari pagi hingga petang. Saya pikir ini hanya demam belaka. Taunya, balas sms saja hamba tak kuasa. Dan itu berlanjut hingga kamis siangnya. Saya baru balas sms si nyoman, doi menang pemilihan presiden KM ITB. so proud. Lalu balas sms si wini andam yang masyaAlloh lama bet balesnya tu bocah. Kamis siang saya tidur di kursi depan ruang asdos tpb. Sayangnya udara panas.
Sore agak mendingan ni badan. Mulai bisa kentat kentut sana sini. Biar bablas angine ya musti dikeluarin. Alhamdulillah bisa keluar. Saya punya pikiran kalau saya sulit kentut gara-gara minggu lalu saya menelan permen karet. Saya juga mengira kalau penyakit masuk angin saya ini gara-gara itu. Dulu pak ayi si polisi tetangga pernah dioperasi gara-gara gabisa kentut. Awalnya saya tertawa baru mendengar penyakit lucu itu. Tapi miris. Makanya, kalau kentut ya kentut saja sampai celana bolong, selama masih diberi lubang di tubuh ya harus dimanfaatkan.
Tadi habis hibernasi. Bangun-bangun karena ada rombongan marchingband di dalam perut. Saya harus ke WC lagi. Sampai jumpa

11.5.13

Talk like a writer, act like a dumbass

Macam bocah saja. Baru tau sastra Gie saja sudah koar-koar seperti paling puitis. Karya terakhir beliau waktu di Semeru kamu comot-comot lalu diganti beberapa frase-nya biar keliatan itu bikinan kamu. Belum tau Sjumandjaya, belum tau Buya Hamka. Orang yang betulan senang sastra tak akan kopi paste karya surga terdahulu. Orang yang betulan itu menghargai setiap hurufnya. Saya tidak terlalu fanatik pada sastra, tapi saya senang membacanya. Jadi kalau ada kalimat-kalimat seniman bahasa terdahulu yang muncul di media sosial tanpa dicantumi nama pengarangnya, maaf saja, saya bahkan enggan menanggapi. Biarpun itu indah dan menginspirasi.

Saya malas berlama-lama di sini. Pagi hingga petang hanya habis dibalut sarung. Mungkin demam. Mudah-mudahan demam saja.

7.5.13

Penutup malam ini (deh)

Si romi pernah ngutip sebuah hadist yang saya jadikan slogan hidup sekarang ini. Bunyinya : 
Kata ulama salaf, jika engkau tidak disibukkan dengan ketaatan pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang sia-sia
Bagaimana kalau ternyata selama ini saya disibukkan dengan hal-hal yang sia-sia? karena iman ini begitu fluktuatif. Kadang di atas kadang di bawah. Misalnya saya suka punya pikiran bahwa kehilangan kunci motor adalah adzab. Ya saya disibukkan mencari-cari terus kunci motor dari parkiran, rumah makan tempat makan tadi siang, masjid, clingak clinguk sepanjang jalan. Padahal itu kunci ketinggalan di ruang kuliah. Begitu ketemu, bilang alhamdulillah kayak orang baru diapus dosanya seumur-umur -_-. Saya takut suatu azab karena selama ini merasa tidak sibuk taat pada-Nya juga.

Itu kalau saya. Satu orang yang tidak taat, misalnya. Bagaimana kalau satu kampung? Kalau satu kota? Kalau satu Negara pada lupa pada urusan akherat urusan akhlak? Naudzubillahimindzalik. Saya hanya beropini tanpa memandang kalau saya juga taat 100% ha ha. Tapi lihat deh, negara ini seolah-oleh disibukkan hal-hal tidak penting juntrungannya. Undang-undang Santet. BELEGUG EDAS!! (kalau kata orang terminal Cicaheum). Sumpah itu gak jelas. Ada lagi SBY bikin twitter. Di blow up media, lalu mayoritas masyarakat sibuk. Sibuknya bukan di dunia nyata. Di dunia lain yang ada twitter, wwwdotkom itu. Pemuda pemudinya juga sibuk sama boyband-boyband. Maksud saya, sah sah saja sih itu kalau cuma hiburan di kala penat aktivitas pekerjaan. Kalau sampai fanatik kelas kakap rasa-rasanya kurang enak dilihat sih.

Lalu sudah mulai muncul-muncul yeuh yang namanya iiluminatiyan di media sosial. Sebar-sebar informasi yang membingungkan banyak pihak. Awal-awalnya seliwat, abis itu ingin nyari tahu lebih banyak, sibuk komentar, sibuk gelisah, tersesat deh. Rosul bilang kalau yang jelas-jelas itu cuma di Qur'an sama Hadist, karena tidak ada keraguan di dalamnya. I'm still workin on it. Dan gatau bisa bener-bener kapan. Dan selama ini saya yakin hal itu adalah kunci keselamatan.

Saya sih selalu berdoa apalagi keluarga. Minta jalan keselamatan, minta perlindungan menjalani jalan tersebut, abis itu minta diakhiri dengan bahagia di ujung jalan tersebut. Satu keluarga. Utuh. Biar kehidupan keluarga di dunia tidak seindah dan seharmonis kebanyakan orang, saya harap kehidupan selanjutnya saya berkeluarga seindah keluarga Rasulullah.

Iya saya lagi eling. Tumben. Abis liat cicak kejepit dus sepatu trus dia mati beku. Kasian. Semoga kita semua tidak disibukkan pada hal-hal yang sia-sia seperti melototin bangke cicak selama 1.34 menit.

Seems to me that it's not a priority. At least for now

Saya melewatkan beberapa hari kemarin dengan 2 rutinitas : tidur subuh, bangun dzuhur. Memang kata si Bolang kalau bangun siang rejeki dipatok ayam. Tapi di kamus saya, ayam bangunnya jam 2 pagi. Jadi mungkin pagi2 ga ada yang matokin rejeki saya. Mudah-mudahan nggak Ya Alloh.

Kenapa ya blog tetangga banyak yang bahasannya nyrempet-nyerempet melankolis. Apa yang begitu laku dijual? Oh pemuda pemudi ini sibuk memikirkan hati mungkin. Let say soal cinta. Cinta itu ibarat wawewo wawewo. I've heard a lot about love analogies. Yang katanya cinta itu seperti babi. Menjijikkan tapi enak. That's odd. Et cetera. Yah mungkin karena saya tidak begitu mengerti sih. Yang saya tahu cinta menurut kamus KBBI saja. Suka kesel sih liat anak muda dimabok asmara. Tiap pagi tiap petang jemputin pasangannya yang pulang dari mana berangkat kemana. Ojek. Apa pernah sesering itu nganter jemput orang tua? Ibu deh. Misalnya yg di rumahnya punya warung. Anter ke pasar. Saya angkat topi kalau ngeliat anak muda seperti itu.

Jujur saya jarang melakukan itu. Si ibu berangkat subuh ke pasar. Buka warung jam stengah 7. Jam segitu biasanya saya masih tidur. Atau masih bangun karena semalaman belum tidur. Kalau masih bangun, saya cuman bukain warung, turunin motor, sapu-sapu. Sudah. Bruk lagi kasur. Apalagi akhir-akhir ini sindrom kelayapan malam begitu klimaks. Merasa berdosa, pasti. Banyak sekali.

Bukannya saya nyari-nyari alasan, tapi seolah-olah saya tidak mampu melakukan hal romantis, sweet, aaww-ness things sama orang tua misalnya ngucapin ulang tahun, anter jemput, curhat2an. Mungkin karena dari dulu saya gak pernah diajarin begitu. Sukanya diabur macam anak ayam. Tau-tau pulang ke rumah sore. Lebaran 2 taun lalu niatnya romantis gitu sama ibu sendiri beliin baju. Beli sih beli, ngasiiinnya kayak ke tukang parkir. Gak bisa pisan sambil ngomong apa kek. Si ibu juga ya cuman makasih. Atau waktu Bandung lagi musim-musim dingin. Si ibu tidur di lantai atas. Saya sih di kamar bekas om. Tadinya berniat buat nyuruh si ibu tidur di kamar saya aja mayan lah ga terlalu dingin trus kasurnya bener. Si ibu gak mau. Ga usah katanya. Makin dipaksa malah makin gak mau. Yasudah saya balik lagi ke kamar weh.

Ada lagi waktu pulang malem. Pintu pager biasanya sih ga dikunci kecuali di atas jam 1. Kalau pulang juga masih bisa buka sendiri, masukin motor sendiri, abis itu makan juga yaa kalo ga ada apa-apa juga ga masalah ada mie instant. Tapi ya tetep si ibu teh nunggu sampe anaknya pulang. Nunggu sambil ketiduran di kursi ruang tamu. Baru pindah kalau anak-anaknya udah kumplit di rumah. Saya pernah bilang gausah ditungguin soalnya megang kunci juga. Eh tetep sih. Saya mau melakukan hal baik-baik buat nunjukin rasa sayang tapi kadang si ibu nyuruhnya ya gausah. Lebih baik menuruti perintahnya sih.

Selama ini merasa masih belum sampai di satu titik di mana saya merasa soleh sebagai anak. Saya hanya bisa berusaha supaya bisa menghasilkan biaya buat kebutuhan sendiri. Memang gak minta orang tuatapi masih egois. Malah belum memberi apa-apa. Tidak hanya materi, bahkan tenaga, waktu, pikiran juga belum sepenuhnya pada ibu. Saya prioritaskan ibu ketimbang ayah karena memang saya merasa harus seperti itu walaupun tidak dipungkiri peran ayah juga tak kalah besar.

Yaa saya ngomong gini ketika saya masih suka bangun siang, ketika saya masih suka males-males kalau disuruh, ketika saya belum menjadi apa-apa. Tapi saya mau jadi apa-apa di mata orang tua juga keluarga. Ini masih menjadi prioritas utama dibanding prioritas calon istri. Kata si gun sih jodoh gakan mendekat begitu kita mencoba bermesraan dengan dia. Pun tidak akan menjauh ketika saling berjauhan. Akhir-akhir ini si eta banyak benernya. Tapi dia kebanyakan postingan seperti itu, kalau diukur dalam waktu 1 hari. Ha ha.

Mengalah. Jangan mengeluh.


Dari kecil manusia sudah dituntut mendapatkan kebutuhannya atas usahanya sendiri. Contohnya adalah disunat. Disunat itu, kata Arya Wiguna, itu buat tit—. Dengan mengorbankan bagian tubuh, seorang anak sudah bisa tuh mendapatkan sepeda atau majalah Bobo. Dengan pengorbanannya kesakitan setiap malam, biusnya habis, atau terkena sarung. Sang anak tabah menghadapi perihnya itu demi sepeda dan harga dirinya. Tanpa kekurangan akal, dia mengganjalkan potongan kulit kelapa di sarungnya. Supaya sarungnya tidak mengenai itu. Baru dibuka setelah sembuh benar.

Kalau dari kecil sudah belajar tidak banyak mengeluh saat berharap sepeda, kenapa mengeluh ketika sudah bisa naik sepeda? Apalagi sepedaannya cuma pas nyekil doang. Iya. Saya sering liat muda mudi pake fixie dempet2an mirip bak sampah organik anorganik. Munculnya tiap pagi dan sore hari menjelang.Hanya hari minggu. Berkacamata, celana pendek, topi, sneakers. Kalau si perempuannya ngeluh kepanasan, dia akan mengambil kanebo lalu menyemprotkan semir bodi mobil ke wajahnya lalu mengelapnya sehingga makeupnya setebel aspal jalan. Apasih saya. 

Tapi gini-gini kota Bandung suka curhat sama saya. Katanya banyak yang gak suka sama doski. Banyak yang ngeluh soalnya waktu dikasi hujan, dimarahin karena gabisa keluar rumah. Dikasi panas kaya barusan juga ada aja yang ngeluh gabisa hujan2an iindiaan sama pacarnya di flyover pasopati. Si Bandung ini masih sabar dan mengalah. Tapi gapapa kok, Dung. Saya suka kamu ada apanya. Saya suka sepedaan kapan saja asal di kota ini masih banyak yang senyum.

Khasiat kelapa


Ini tentang bagaimana rasanya menjadi orang bingung di pucuk pagi. Lihat-lihat jejaring sosial isinya jualan. Pagi-pagi coba jualan penyakit cinte-cinte. Bingung kan. Ngejar kambing, dapetnya burung.
Ini loh kuliahan tingkat akhir. Seminggu kemarin dosennya mbelebuuuss kabehhh!! Kalau ada yang tidak tau, itu bahasa swahili pedalaman banten. Saya anggap itu artinya : pergi jauh menelantarkan mahasiswanya. Bapak A ke amerika, Bapak D ke Djepang, bapak Be ke Bali. Bravoo bravoo.
Ngomong-ngomong soal ke luar negeri, bangun tidur tadi saya gatal-gatal di suatu organ tubuh yang tidak perlu disebutkan. Tapi kata kuping yang bergoyang ini, bilang saja ‘ass’ biar greget. Jaman dulu ketika pantat saya masih mulus seperti punya bayi, saya masih bayi. Kalau gatal sukangadat. Buka celana lalu lari-lari keliling rumah tetangga nempelin itu ke tembok biar adem. Kalau masih gatal suka ditiupin si babeh. Katanya ada yang utek-utekan. Kebanyakan makan kelapa katanya.Utek-utek itu semacam gerakan kecil yang efeknya massal. Semacam teori bom atom. Saya sih gatau teori bom atom. Ye ko situ kesel. Saya yang kesel lah ini pantat gatel gada yang niupin. Tadinya saya juga berniat begitu. Jongkok di atas cooler laptop. Tapi rusak. Gausah dibayangin juga gapapa kok. Imajinasi ini terlalu liar.

Bukan jorok loh ini. Jangan underestisdzxkyfmet dulu. Ini adalah pengetahuan untuk kita semua para calon ayah. Mempersiapkan diri di masa datang ketika jika memiliki seorang anak hiperaktif yang suka makan kelapa sembarangan tanpa mengupas kulitnya lebih dahulu. Langsung dilegleg kitu. Karena mempersiapkan diri menjadi ayah tidak hanya butuh cinta, tapi skill coy. Apapun skillnya, postingan ini adalah salah satu skill itu. Makan kelapa itu jangan sama batoknya, sama yang muda. Kelapa muda. naon ateuh.

28.4.13

Minggu produktif


Sudah lama gak nulis. <-- kalimat yang sudah harusnya dimakan jaman karena terlalu banyak orang menggunakannya untuk memulai suatu tulisan. Karena memang, kesulitan itu adanya di awal, yang ada di akhir hanyalah sodakowlohuladim.

Jum'at 26 April
Pagi tadi saya ada panggilan ke radio anak muda bandung. Jam 10 pagi ada introduksi internship ardan dari kang dinar. Hari itu pula deadline 3 print ad diumumkan via email. Selasa besok kirim 3print ad. Mampus-mampusin diri sendiri.

Ngecek progress si Cakrawala ke R-botix Ciumbuleuit. Di luar dugaan, si progress pak dian pak egan dkk secepat ini.



CLBK. Cemangat lama bersemi kembali. Setelah 3 bulanan lalu diumumkan hasil daftar ulang yang menjelaskan tim saya tidak lolos, baru saat ini lagi saya punya cemangat atau cpirit. Lanjut terus gan pake k. Kontinyu! Biar tak ke malaysia, setidaknya saya berusaha untuk indonesia. Ngemeng.


Malam ke gedung SR. Ada dramawisata. Bisa dikatakan begitu karena wisata malam ini perlu drama. Dari mafia, hingga anak TK. Yang jadi mafia itu si 2010. Anak TK itu si tpb. Dramawisata mengisahkan tengtang sekumpulan anak TK yang tadinya berniat untuk berwisata ke Kawah Candradimuke eh malah terdampar di sarang mafia. Mereka di sandera dan didoktrin untuk tahu kegiatan mafia di dalamnya. Ada ruangan yang mendoktrin untuk menjadi desainer produk, dkv, desain interior, ada pula ruangan yang membuat celana mereka merah seperti menstruasi. Saya juga di sana. Sedang menyamar menjadi tukang putu. Saya hanya datang ke DP putu-putu. Pake Nikon. Lalu pulang.

***

Sabtu, 27 April.

Saya harus tunggang langgang menuju Xtrans Cihampelas di malam minggu. Ngirim paket karikatur ke jakarta. Pagi-paginya, saya dikebut karikatur ini. Saya pernah janji bakal vakum dulu ngerjain karikatur. Ternyata vakum hanya di bibir saja. Tadinya saya sudah meminta seseorang bernama absen Leda doang buat ngerjain ini. Kebetulan waktu itu tanpa sengaja saya memergokinya posting terima jasa karikatur di sebuah situs purbakala. Tapi beliau ternyata dikejar setoran tugas katanya. Terpaksa saya garap juga karikatur couple ini. Dengan ini, pra ta saya mogok sehari.

Survey ke cihampelas. Manusianya ramai. Saya memotret beberapa titik di tempat-tempat terbuka. Pas saya cek lagi hasilnya fotonya, ternyata gak keliatan. Si titik. Saya hanya mendapatkan foto-foto orang duduk-duduk di teras depan. Gerombolan perempuan yang keliatannya tertarik pada saya.



Saya sudah gatal, karena tidak ada balsem, saya ingin berkomentar saja pada ketololan mahasiswa jalan dago tiap malam minggu. 



"Seribu aja seribu aja, seeeribu ajaa..."

Itu sebagian template lirik lagu yang dinyanyikan oleh mahasiswa tercinta dari ujung dago bawah sampai atas. Dengan membawa gitar (yang tdigendong saja, tidak dimainkan, karena dia nyanyi sambil tepok-tepok), juga kotak kardus bertuliskan "SUMBANGAN KORBAN BENCANA", semua riang bernyanyi. Dengan ekspresi seperti bukan berusaha mencari dana untuk korban bencana.

Saya pernah dengar cerita seorang dosen. Waktu dia malam mingguan sama keluarganya di jalan dago, di suatu masa. Beliau dihampiri beberapa anak muda bawa kotak yang hampir serupa. Bertujuan sosial. Lalu ngamen-ngamen bergerombol ke arah mobilnya. Beliau ngasih seribu (atau duaribu. Lupa). Doi pikir itu tindakan baik laaah. Habis dari situ, keluarganya kelaparan. Daripada lapar-laparan pikiran pusing tidak keruan, beliau pergi ke dago plaza. Di dago plaza, beliau sekeluarga sudah memesan makanan, lalu menyantap hidangan selagi panas tapi bukan di kompor.

Tak dinyana, di seberang meja, dia melihat rombongan mahasiswa tadi sedang asyik-asyiknya ngerumpi dan makan. Dengan kotak 'bantuan sosial' di bawah meja. Ternyata mahasiswa2 itu memakai duit bansos hasil ngamen itu buat foya-foyi. Si pak dosen menghampiri lalu marah2 memaki2 mereka. Saya lupa kata-katanya yang jelas itu memalukan. Dengan segera si pak dosen meminta kembali uang yang pernah diberikan pada mereka. "Kalau anak itb, sudah saya DO" katanya.

Sekian sabtu malam bersama Eyang Syukur. Saya masih senang jalan-jalan malam minggu sendiri. Kalau banyakan suka ngamen di dago.

Oya hari ini si adek ulang tahun. Selamat ya. Di rumah bikin nasi uduk pake kentang telor, bagiin ke tetangga. Mau beliin J.CO tapi saya lagi pake sendal capit ke ciwalk. Kampong.

21.4.13

Review CFD dan Konser ISO

"Pemirsa pemirsi, minggu pagi ada baiknya dihabiskan dengan senam remix di depan minimarket terdekat. Selagi belek masih melekat dan nafas bau babi laknat, mari berangkat."

Si om ngajak CFD-an sama anaknya. Berangkat pukul 7 pagi, dari rumah cuma pake sendal keybboard. Kali-kali kalo abis pulsa bisa dipake chating ke si om. Soalnya kita janjian di sana. Si om dari cibiru, saya sama puput, dari pagi.

Di jalan dago kebanyakan anak muda banyak cowok muda bersama cewek mudanya. Sebuah pemandangan yang tidak baik bagi perkembangan anak kecil yang sedang saya ajak berjalan-jalan. Saya sih pria. Sudah akil balig juga. Maka dari itu, kami berjalan-jalan saja di kampus.

Saya ajak si puput ke kolam intel. Ada pelangi. Katanya kepingin diambil. Tapi ini masih pagi. Belum banyak. Kapan-kapan lagi diambilnya.


Foto ini adalah do'a. Untuk adikku, Putri Rahmi Nur Kamilah.
Bisa saja 10 tahun lagi blog ini tidak lagi ada. Atau pelangi di kolam intel itu berubah menjadi beton bangunan.
Bisa saja 10 tahun lagi masuk sekolah ini bukan lagi lewat gerbang depan yang tadi dilalui.

Coba kejar.

***

Konser ISO 2013.

Waktu hari kamis ketemu si arina di CC barat. ISO mau ada konser di DTH. Awalnya saya pikir itu Darut TauHid. Ternyata Dago Tea House. Dipikir punya pikir, ini kesempatan terakhir saya nonton konser ISO selagi menjabat sebagai mahasiswa. Waktu itu, dia bilang tiketnya habis. Tapi untungnya diusahain ada oleh arina. Terima kasih sekali untuk 2 tiketnya.

Dua tiket. Buka kontak hp, scroll-scroll nama, gak ada yang memungkinkan buat diajak. Apalagi kontak yang namanya Perkakasku(dot)kom. Saya ingin punya pembantu seperti Mas Anca yang di Malam minggu Miko. Orangnya fleksibel dan mau diajak susah.

Jam 6 sore, saat tiada orang mau menonton berdua, ada nia nyari 1 tiket lagi. Saya jual 1. Sisanya buat nonton sendiri. Tak apa sendiri asal memberi apresiasi.

Jam 7 antrean panjang di depan teater tertutup. Tepat di depan saya sejoli lagi hangat-hangatnya tai kotok romantika. Membicarakan geologi, toksin, dan sejarah pulau Sumatera. Ini hari libur loh. Haram bicara begitu.

Saya duduk di tribun kanan bawah serong kanan baris 3 paling ujung. Ya di situ lah saya nyampah kripik kentang. Di samping saya ada bocah gendut bawa kamera yang tidak dipakai. Dilihat dari tingkah polahnya selama kurang lebih 1 jam, hipotesa saya adalah : anak ini dari kecil dikasih junk food, gak demen musik klasik, pantatnya bisulan. Karena dia gak bisa diam kecuali tertidur. Dan yak dia tertidur ketika konser baru setengah jam. Kelihatannya dia korban pemaksaan kakaknya - yang juga punya 2 tiket tapi ceweknya ngebatalin, dan kakaknya tetep pengen nonton tapi gamau sendiri.

Padahal udah nyiapin settingan kamera 1 tas. Saya hargai panitia, katanya gaboleh foto2 selama acara berlangsung. Jadi pulang-pulang tak bawa dokumentasi. Untungnya ada oleh-oleh : Plink Plank Plunk dari Leroy Anderson. Saya suka punch-lime-nya. 

Akhir kata, biarlah tahun depan menonton konser ini kembali. Terlalu bagus untuk dilewatkan begitu saja. Mau satu ada dua tiket, biar Allah yang memberi jalan. Malam.

Kamera Zoom 350 juta giga kilometer persegi

Watsapp saya ada, tapi gak nyala di HP. baru bisa bales kalo lg online laptop. Dan brendelan mesej yg masuk bikn otak saya jepret.

Kak Laras : Ardhyyyyy, ini laras. Kamu punya handycam digital ga? Atau gopro? Hehehehe. Atau kenal yang punya gak? Makasi ardhyyyy

Aing : Kak malmut, ku tak punya euuy.. haha.. kebanyakan temen2 ngerekam pake kamera LDR sih ka..jd gatau siapa yg punya handycam. Ke LFM atuh

Kak Laras : Ldr? Slr meureuuunnn. Apa ldr beneran?

Aing : Eh iya SLR -___-

***

18.4.13

Monolog tiga dini hari

Sejujurnya saya kurang suka postingan macam begini. Tapi ini sudah batas maksimum dan hampir tumpeh-tumpeh.

Belakangan, saya kerap kali disibukkan sama hal-hal yang sifatnya menguras waktu tenaga pikiran. Dari mulai jadi timses pemilu, pameran, prata, lomba, hingga beberapa kerjaan kecil yang saya tumpuk hingga menggunung. Saya suka saat mengerjakannya. Saya suka saat bertemu orang-orang baru. Mereka luar biasa. Tapi saya tidak suka saat menyadari bahwa semua hal ini sudah saya kerjakan. Ada momen yang tidak saya sukai di ujungnya. Itu adalah momen kosong. Masa reses. Di mana saya diingatkan kembali pada hal yang sudah lama terlantarkan. Di mana saya dihadapkan kembali pada kenyataan bahwa saya juga pemuda yang beranjak menjadi bapak. Dan tentu, jika ada bapak, maka ada ibu.

Dan ini masa reses.

Tiap hari rabu saya bertemu dika, kiki, masur, azhar. Kadang ada teman lain yang ikut nimbrung. Selama hampir 3 minggu kemarin saya diceramahi ini itu. Tentu tentang kodrat sebagai lelaki yang beranjak bapak. Dika dan kiki yang selalu bercerita si bagia dan si restunya masing-masing. Saya dengarkan tiap jengkal katanya. Saya ikut senang. Dan kalau memangitu jodohnya mereka, doaku setinggi langit untuk mereka.

Umur tidak bisa kompromi. Menginjak 23. Saya pernah menggambar Future Plan. Di sana, saya cantumkan tahun 2015 untuk menikah. Karena saya pikir lebih cepat lebih baik. Karena saya takut nafsu ini tak terjaga jika berlama-lama. Kalau dipikir, mustahil. Jangankan dipikir ke arah sana, saya terlampau acuh pada masalah cinte-cinte begini. Karena saya pernah membuang satu dekade dengan kesia-siaan.

Dilihat sekilas, track record saya masalah cinte-cinte tak seburuk yang lain. Pernah 2 kali memasang ikatan imajiner bernama pacaran adalah pencapaian yang tidak terlalu buruk bagi saya yang masih kampung. Tidak ada yang bertahan lebih dari 1 tahun karena satu dan lain hal.

Dua tahun berjibaku fokus pada hal lain selain hal remeh temeh cinte-cinte, mungkin, membuat saya lupa kalau saya punya mimpi 10 tahun mendatang. Dengan kehidupan baru, orang-orang baru, keluarga baru. Jika Allah menghendaki. Saya sadar mendasar kalau setelah fase kuliah, hidup sudah tidak ditemani teman sepergaulan. Saat itu tiba, saya bakal dihadapi kenyataan kalau nantinya tidak mudah bertemu teman untuk berbagi traktiran gaji pertama. Tidak mudah berbagi cerita dengan teman sebaya. Tentang sehari kemarin, hari ini, lalu harapan hari esok, juga seterusnya. Tidak ada kecuali teman hidup yang diikat oleh suatu hukum bernama pernikahan. Tapi itu masih jauh. 10 tahun mendatang.

Sekarang sedang meniti kembali. Memang sudah kata Rasul dari sana untuk mencari perempuan yang cantik parasnya, lalu agamanya. Saya dalam tahap itu. Dan sahabat saya juga. Dan sepertinya kami mengejar tujuan yang sama. Hanya saja, saya tidak mau membeberkan juga saya menuju perempuan yang sama pada sahabat saya ini. Kau tahu sendiri, jika membangun persahabatan  perlu setengah abad, maka hanya perlu waktu seminggu saja untuk menghancurkannya. Seminggu semenjak seorang perempuan hadir di dalamnya dan keduanya mengetahui satu sama lain.

Ini seru! seperti bermain permainan tebak kata. Siapa punyaku, siapa punyamu nantinya. Tapi saya semakin hilang selera membahas lebih lanjut. Sudah dini hari.

Harga dari Rasa Syukur

Beberapa tahun sudah saya coba menutup buku usang ini tempat berbagai kelelahan pikir tertumpah. Ada masa ketika segala kecamuk dalam dada t...