Gorengan tempe itu enak kalau dinikmati panas-panas. Sehingga saya simpulkan, yang panas itu enak dinikmati ketika baru saja diangkat.
Menjelang wisuda. Harusnya bersuka ria (?). Entahlah. Saya malah berkebalikan dengan kawan-kawan. Mereka sedang hectic-hecticnya persiapan ini itu. Yang perempuan bertanya salon dan tata rias, yang laki-laki mencari jas. Ada pula yang sibuk booking tempat foto keluarga jauh-jauh hari, supaya selesai wisuda langsung berfoto bersama. Lah saya? Sekarang sedang tidur-tidur menunggu kabar naik gunung. Tidur-tiduran semata-mata melarikan diri dari 'panasnya' konflik batin akhir-akhir ini.
Si ibu berkeluh kesah, tentang sesuatu yang mengganggu. tentang hari wisuda saya. Katanya itu haknya dia. Makna "today is yours" pada hari wisuda diartikan sebagai momen keluarga oleh sebagian besar kalangan masyarakat. Hanya saja kondisi keluarga saya tak bisa disebut sebagai keluarga. Memang tidak ada kata mantan ayah. Jadi, si ayah pun berhak menghadiri wisuda saya. Tapi, ia berniat membawa juga 'keluarga lainnya', yang notabene tentu ada seorang anak, seorang anak lagi, dan ibunya anak-anak itu. Namun dia ayahku. Dan itu yang membuat saya resah, pun si ibu. Ibu saya. Merasa hari-nya terganggu oleh kehadiran orang yang ia hindari.
Ya Allah.. Saya ingin berbincang. . Tentang bagaimana membuat hati dan pikiran ini tenang. Tentu hanya pada-Mu. Karena ketika mengandalkan sesorang yang juga hamba-Mu, dia belum tentu ada waktu, dan belum tentu mau. Seperti sore ini. Apa mungkin karena saya terlihat seperti menggoda dengan alasan minum kopi? Ah tak apa. Setidaknya itu jujur karena sedang ingin ngopi. Kalaupun bersuka hati karena pertemuan, itu bonus.
***
Kisah lucu bisa dibicarakan pada banyak orang. Selama itu fakta dan tidak menyinggung perasaan. Tapi kisah pilu hanya boleh diceritakan pada 1 orang. Sejauh ini, itu menurutku. Bercerita pun tak perlu dengan muram durja. Tidak perlu diumbar meminta dikasihani. Karena Allah Maha Pengasih.
No comments:
Post a Comment