| Kamis, 3 April |
Saya, Ardhyaska Amy. 23 tahun dan paling benci melihat pria
di atas 30 tahun yang sudah berkeluarga namun masih saja tukang rayu daun muda.
Malam ini, 9.45 WIB, di depan rumah ada seorang bapak
beranak 3 beristri 1 dan memiliki rumah. Dia sedang asyik menelepon seseorang
dengan super duper loudspeaker. Dengan cara seperti itu, saya bisa tahu siapa
yang dia telepon dan perbincangan apa di dalamnya. Di ujung teleponnya bapak
itu, adalah seorang perempuan. Mungkin masih muda, karena terdengar jelas si
bapak banyak memberi nasehat ini itu soal pekerjaan si perempuan.
Pada saat itu, saya sedang tiduran sambil berusaha melakukan
kegiatan yang bisa dilakukan selain diam. Saya benci diam. Maka saya buka-buka
sms lama. Niatnya ingin bernostalgia tapi lama kelamaan semakin terganggu
dengan percakapan si bapak depan rumah dan perempuan di ujung telepon sana. Dan
kalau saya ibaratkan, percakapan semacam itu mirip dengan percakapan yang saya
lakukan ketika terbuai cinta monyet SMP. Dari nada bicara si bapak, topik obrolan,
dan basa basi yang bertujuan berlama-lama berbincang. Kuping saya panas. Saya
pindah ke lantai 2 untuk menulis ini.
Apakah memang benar adanya pubertas kedua? Atau ketiga?
Keempat? Kalau benar adanya, dan seandainya setiap pria kelak akan
mengalaminya, saya hanya berharap dan berdoa dikarunai istri dan anak-anak saya
yang kelak membawa kembali diri saya ke dalam hangatnya rumah bersama. Istri yang
hebat dan punya banyak cara menarik saya kembali ke dalam pusaranya. Sama
seperti saat saya mengejar-ngejarnya tanpa ampun. Dan anak-anak saya yang
berpikiran dewasa, tahu bahwa ayahnya hanya sedang khilaf dan mabuk dunia. Dan
yang paling utama adalah Allah SWT, yang tentu paling bisa membolak-balikkan
hati para umatnya.
***
Belum ada yang memberi saya nasihat tentang bagaimana
menjadi pria hebat. Tidak seorang ayah, tidak seorang ibu, tidak seorang kawan
pun. Mungkin belum. Dan penafsiran pribadi tentang menjadi hebat ternyata
sangat sulit. Selama ini masih dari pengamatan pribadi terhadap
fenomena-fenomena yang terjadi. Lalu mencari jawabannya melalui buku, hadist,
kisah para sahabat Rasul (terutama Umar bin Khattab, idola pisan), Youtube, twitter, dll. Apakah harus kaya? Apakah bersekolah di tempat
bergengsi? Apakah memiliki kasta sosial tinggi? Setidaknya sampai detik ini
saya masih berpikiran sebatas itu-itu saja. Menjadi hebat ternyata tidak
sendirian. Ada wanita hebat pula di belakangnya. Yang selalu bisa mengingatkan
lelakinya yang di depan untuk berada pada jalan yang benar. Yang memberikan
baterai cadangan ketika lampu sorot yang menuntun mereka mulai redup. Yang
menyeret lelakinya jika dia terjerembab dalam lumpur hisap. Yang jika
dititipkan padanya sekarung kayu bakar, dia tidak akan memberikan pada siapapun
selain pada lelakinya. Dan perempuan itu, apakah kau?
***
Pembatas Qur’an malam
ini sudah sampailah pada Ar-Rahman. Saya bersemangat sekali ingin membacanya
segera. Tapi si ibu belum juga tidur.
***
Andaikan perempuan hebat yang Allah takdirkan kepada saya
itu menantang saya untuk menghafal Ar-Rahman demi bisa menikahinya, akan saya
lakukan usaha paling maksimal yang akan tercatat dalam buku kehidupan saya.
Lalu akan saya ceritakan pada anak-anak bagaimana ibunya dikejar-kejar dengan ayat-ayat
indah. Dan jika saya dikaruniai anak perempuan, lalu ketika dewasa dia hendak
dilamar, akan saya tantang si pemuda itu untuk menghafal Surat yang sama.
Sungguh indah jika memiliki keluarga demikian.
No comments:
Post a Comment