3.4.14

Fenomena Pubertas Kedua

| Kamis, 3 April |

Saya, Ardhyaska Amy. 23 tahun dan paling benci melihat pria di atas 30 tahun yang sudah berkeluarga namun masih saja tukang rayu daun muda.

Malam ini, 9.45 WIB, di depan rumah ada seorang bapak beranak 3 beristri 1 dan memiliki rumah. Dia sedang asyik menelepon seseorang dengan super duper loudspeaker. Dengan cara seperti itu, saya bisa tahu siapa yang dia telepon dan perbincangan apa di dalamnya. Di ujung teleponnya bapak itu, adalah seorang perempuan. Mungkin masih muda, karena terdengar jelas si bapak banyak memberi nasehat ini itu soal pekerjaan si perempuan.

Pada saat itu, saya sedang tiduran sambil berusaha melakukan kegiatan yang bisa dilakukan selain diam. Saya benci diam. Maka saya buka-buka sms lama. Niatnya ingin bernostalgia tapi lama kelamaan semakin terganggu dengan percakapan si bapak depan rumah dan perempuan di ujung telepon sana. Dan kalau saya ibaratkan, percakapan semacam itu mirip dengan percakapan yang saya lakukan ketika terbuai cinta monyet SMP. Dari nada bicara si bapak, topik obrolan, dan basa basi yang bertujuan berlama-lama berbincang. Kuping saya panas. Saya pindah ke lantai 2 untuk menulis ini.

Apakah memang benar adanya pubertas kedua? Atau ketiga? Keempat? Kalau benar adanya, dan seandainya setiap pria kelak akan mengalaminya, saya hanya berharap dan berdoa dikarunai istri dan anak-anak saya yang kelak membawa kembali diri saya ke dalam hangatnya rumah bersama. Istri yang hebat dan punya banyak cara menarik saya kembali ke dalam pusaranya. Sama seperti saat saya mengejar-ngejarnya tanpa ampun. Dan anak-anak saya yang berpikiran dewasa, tahu bahwa ayahnya hanya sedang khilaf dan mabuk dunia. Dan yang paling utama adalah Allah SWT, yang tentu paling bisa membolak-balikkan hati para umatnya.

***

Belum ada yang memberi saya nasihat tentang bagaimana menjadi pria hebat. Tidak seorang ayah, tidak seorang ibu, tidak seorang kawan pun. Mungkin belum. Dan penafsiran pribadi tentang menjadi hebat ternyata sangat sulit. Selama ini masih dari pengamatan pribadi terhadap fenomena-fenomena yang terjadi. Lalu mencari jawabannya melalui buku, hadist, kisah para sahabat Rasul (terutama Umar bin Khattab, idola pisan), Youtube, twitter, dll. Apakah harus kaya? Apakah bersekolah di tempat bergengsi? Apakah memiliki kasta sosial tinggi? Setidaknya sampai detik ini saya masih berpikiran sebatas itu-itu saja. Menjadi hebat ternyata tidak sendirian. Ada wanita hebat pula di belakangnya. Yang selalu bisa mengingatkan lelakinya yang di depan untuk berada pada jalan yang benar. Yang memberikan baterai cadangan ketika lampu sorot yang menuntun mereka mulai redup. Yang menyeret lelakinya jika dia terjerembab dalam lumpur hisap. Yang jika dititipkan padanya sekarung kayu bakar, dia tidak akan memberikan pada siapapun selain pada lelakinya. Dan perempuan itu, apakah kau?

***

Pembatas Qur’an  malam ini sudah sampailah pada Ar-Rahman. Saya bersemangat sekali ingin membacanya segera. Tapi si ibu belum juga tidur.

***


Andaikan perempuan hebat yang Allah takdirkan kepada saya itu menantang saya untuk menghafal Ar-Rahman demi bisa menikahinya, akan saya lakukan usaha paling maksimal yang akan tercatat dalam buku kehidupan saya. Lalu akan saya ceritakan pada anak-anak bagaimana ibunya dikejar-kejar dengan ayat-ayat indah. Dan jika saya dikaruniai anak perempuan, lalu ketika dewasa dia hendak dilamar, akan saya tantang si pemuda itu untuk menghafal Surat yang sama. Sungguh indah jika memiliki keluarga demikian.

No comments:

Post a Comment

Harga dari Rasa Syukur

Beberapa tahun sudah saya coba menutup buku usang ini tempat berbagai kelelahan pikir tertumpah. Ada masa ketika segala kecamuk dalam dada t...