27.10.14

Hari pertama di Pare (Episode 2)

Ocotber 24th.

I can't resist to not write my recent experiences that happened couple of days ago. Awalanya waktu berangkat ke Pare naik bis Jurusan Bandung-Kediri. Pahala Kencana, you named it. Dari terminal Cicaheum jam 4 sore. Saya perhatikan lagi, ternyata ini exactly the same bus waktu saya sama si abeng ke Pare pertama kali. Supirnya juga sama. Si Gondrong. Dari Cicaheum, mulus-mulus saja.

Sampai malapetaka terjadi jam 11 malam. Bis tiba-tiba mengeluarkan bunyi melengking ultrasonik dari bagian belakang. I thought it's not a big deal. Mungkin kendala mesin biasa yang nanti juga hilang lagi. Namun beberapa ratus meter kemudian, tepatnya di daerah Banyumas si supir gondrong itu memberhentikan bis lalu ke luar. Dia memeriksa mesin belakang. Hampir 15 menit tak kunjung selesai, si supir gondrong dengan sah mengatakan bahwa bis sudah tak mungkin bisa berjalan kembali. There's something cannot fixed immediately with its radiator. Seluruh penumpang hanya bisa pasrah menunggu solusi. Tak lama, supir itu mengatakan bahwa akan ada bis jemputan. Tinggal tunggu saja.

Tunggu...
Tunggu...

5 jam kemudian, masih belum muncul. Sudah pagi-pagi.
8 jam kemudian, badan mulai gatal-gatal. Bibir pecah-pecah, susah buang air besar.
9 jam kemudian, voila! Bis jemputan datang, and i'm officially a hundred years old guy.
Jam 9 pagi, kami baru berangkat lagi naik bis jemputan. Setengah jalan saja belum.

Kalau bukan karena kebaikan para kru Pahala Kencana ini yang menawarkan makan sampai 3 kali dalam perjalanan, saya mungkin sudah maki-maki (tapi mana berani). But, seriously, mereka bela-belain berhenti sampai 3 kali dan menawarkan makan gratis sebagai kompensasi. Padahal biasanya cuma sekali makan/jalan. Applause.

Sampai di Kediri jam 11 malam, yang artinya 30 jam di perjalanan. Damn! Put me on a Guinness Book of Record! Sampai di Kediri jam segitu artinya sudah tidak ada angkutan umum atau bis kecil yang ke arah Pare. Ke office terminal, dibilangnya ada bis lagi jam 3 dini hari. Karena saking sudah capeknya badan, saya putuskan naik ojek saja. Tarif sudah tidak saya pikirkan lagi, karena isi pikiran saya sudah kamar dan appropriate bed. Sedikit nego-nego, saya berhasil menawar dari 75rb jadi 50rb. Lumayan kan buat makan 4 kali.

Akhirnya, saya sampai di Pare jam 11.34. Turun di Elfast, dijemput dulu si Bang Jamal, ke Zeal, ketemu anak-anak lama (Saiput Twins, Rafi, Harun yang bentar lagi jadi tutor, dan Viki, what a surprise). Konon katanya dia selalu bertanya-tanya soal saya yang dulu jadi partner main musik waktu farewell party. Malam tadi juga seperti itu lagi. Dia ngajak lagi main buat the next farewell, tapi saya sudah bukan anak Zeal. Habis dari Zeal, pindah ke kosan si Abeng. Baru bangun dia. Jam 2 dini hari baru tidur kembali.

***


Senin, 27 Oktober.

Memulai kelas IELTS perdana. Let's see what i can do here. It's more challenging than i thought. Very exiting!

23.10.14

PrePARE

October 24

Hampir 3 minggu di bandung. Rasanya baru kemarin di sini.Tidak banyak bepergian kemana-mana selama di sini. Ke luar teritori lingkungan rumah paling bisa dihitung jari. Karena selain malas, perlu ada approval dari isi kantong. Well yes I'm officially unemployed for more than 4 weeks. Honestly, I feel little bit ashamed of myself regarding to my recent condition. Unlike my friends who already got their settle job. Merintis usaha surabi tadinya supaya ada tambahan buat biaya eilts. Tapi atas nama karang taruna, saya serahkan pada beberapa orang yang memang bisa pegang komitmen di usaha ini. Ajeng, Deri, Dedi, Lukman, Fika. Melihat jadwal ke depan, saya memang masih bisa jadi pengawas, tapi tidak untuk menjadi pemilik. Maka saya lepas saja segala pendapatan dari usaha itu untuk mereka-mereka yang memang bekerja keras untuk itu. Ya mereka berlima tadi.

Besok sudah pergi lagi ke Pare. Bis sudah dipesan dan Insya Allah berangkat jam 4 sore karena tak kebagian tiket kereta. Malam ini rasanya panjang. Masih jam 12..40. Besok-besok mungkin saya akan jarang lihat jam-jam malam seperti ini. Si Abeng sudah mendaftarkan saya di program pre IELTS. Di jadwal tercatat, masuk jam 7 pagi - 4 sore. Habis itu magrib, isya, lalu tidur cepat.

Belum packing. Bekal-bekal belum dipersiapkan. Padahal rencananya akhir course mau ke Rinjani sama Bang Jamal and the gank. Untungnya kemarin malam dapat bekal penting dari ustadz Afif. "The less you give a damn on somebody's belonging, the happier you will be." Sekarang, saya belum punya pekerjaan tetap. Kadang garap ini garap itu. Perasaan kurang itu selalu terbersit ketika update-an posisi pekerjaan seorang teman. Sekarang, saya pun belum mapan. Perasaan kurang itu selalu terbersit ketika senior-senior saya memajang foto dalam mobilnya. Sekarang saya pun belum laku di pasaran. Perasaan kuranng itu selalu terbersit ketika melihat undangan pernikahan kawan. Tapi ternyata kebahagiaan itu bukan pada apa yang telah dimiliki, namun apa yang bisa diberi untuk kemudian disyukuri.



Sepertinya akan menjadi catatan penutup Oktober. My prediction said that I probably will pass this November without any posts. We'll see. Dadah Bandung. Sampai bertemu lagi di lain waktu.

21.10.14

Serah Terima Nusantara

October 22th

Saya benar-benar melewatkan momen-momen transisi kepemimpinan di tanah air ini. Benar-benar skip. Karena sebelumnya dikecewakan dengan tayangan televisi dalam negeri yang isinya tidak banyak yang penting. Sekalinya ada yang penting semacam pelantikan presiden, saya sedang ogah-ogahan. Juga karena ada kesibukan lain.


Bicara soal pemimpin baru, saya jadi ingat note yang pernah saya tulis dulu ketika Ridwan Kamil baru saja dilantik menjadi walikota Bandung. Isinya begini :


Sore kemarin saya berkunjung ke sebuah kampus, di sebuah kota yang walikotanya baru saja terpilih. Sore kemarin saya mendengarkan kisah seorang pemimpin yang menurut saya keren, berkharisma, tegas, adil, teladan bagi semua pemimpin, tidak hanya sebuah negara, atau kota, atau RT atau RW, tapi juga keluarga. Saya tulis sesingkat mungkin supaya sy ingat nanti ketika bercerita pada anak sendiri. Pada malas juga baca banyak2.


Jadi kisahnya, dulu sekitar abad ke-7 masehi, ada seorang pemimpin hebat. Jendral perang pemberani. Ia terpilih sebagai pemimpin di suatu negeri. Presiden kalau jaman sekarang. Pria ini berwatak keras, tegas, namun ada kalanya lembut. Di bawah pemerintahannya, beliau menciptakan tatanan pemerintahan yang jauh di depan pemikiran pemimpin2 negeri lainnya pada saat itu. Visioner.


Presiden ini yang menciptakan pembagian negara menjadi sebut saja provinsi, kabupaten, atau kotamadya. Sekarang ada kecamatan, desa, RT, RW,dst. Presiden ini juga mencetuskan ide gubernur, sekretaris, mentri pendapatan negara, hakim, panglima perang,dll. Pegawai-pegawai pemerintahan ini asalnya dari para ahli, namun mereka selalu diawasi dengan teliti oleh sang pemimpin yang sangar ini agar rakyat aman sentosa dan terjauh dari aniaya dan kezaliman. Dengan ketelitiannya, tiap orang yang akan mencalonkan jadi gubernur harus diaudit (dihitung) harta bendanya sebelum dia menjalankan pekerjaannya (di Indonesia ada tapi banyak tipu2). Apabila telah usai masa tugasnya, hartanya dihitung kembali. Kalau ditemukan hartanya melebihi dari yang dahulu, dan kelebihannya itu diperoleh dengan jalan melanggar peraturan negara, maka kelebihannya itu atau sebagiannya harus diambil dan diserahkan kepada Baitul Mal (Perbendaharaan Negara).(di sini boro-boro. Malah diternak bikin boro budur di rumah sendiri). Operasi Pasar yang sekarang-sekarang sering keliatan di tivi, dulu sudah ada. Yang melakukan ya sang pemimpin ini sendiri turun ke TKP. Bukan utusan siapapun. Blusukan ke TKP nya juga bener. Ada susu yang dicampur air atau santan langsung diminta ganti pake susu asli bergizi semua. Enyak enyak.. Pengiriman pesan lewat pos juga sudah. Undang-undang yang sekarang ada juga sudah dibentuk pada zamannya. Kesetaraan warga negara, adil pada semua, walaupun saat negaranya perang dengan bangsa romawi, ada penduduk nasrani di negaranya, dan penduduk ini tetap hidup layak tanpa ada diskriminasi. Adil. Pokoknya semuanya udah beyond the future dah! Gilee bener-bener orientasinya masa depan banget. Pemikiran modern yang diaplikasikan secara benar. Bukan momoderenan.
Hasilnya, negaranya maju. Jawara perang. Negaranya disegani oleh dunia. Semua rakyatnya pun makmur sejahtera, semua aspek kehidupannya maju, peradabannya maju. SELURUH RAKYATNYA tidak ada yang miskin kecuali satu orang. Sang Pemimpin itu sendiri. Karena baginya, kesejahteraan rakyatnya adalah prioritas utama.
Pemimpin itu namanya Umar bin Khattab.


***


Saya akui saya bukan mahasiswa agamis. Kadang banyak salah ketimbang soleh. Tapi cerita kemarin sore di masjid Salman ini luar biasa. Kalau saya gambarkan saat itu, sore itu, di dalam masjid itu, semua hening, hanya ada ustad yang bercerita berapi-api, dan hampir semua yang ada di sana diam. Merinding asli. Terakhir saya merinding itu nonton Insidious setahun lalu.


Ada kutipan menarik yang menurut saya jadi bahan introspeksi buat saya pribadi, umumnya yang membaca ini, atau mendengar. "Kalau negara ini kacau, rakyat jangan salahkan pemimpinnya. Karena tidak semua orang berani dan mampu menjadi pemimpin. Salahkan rakyatnya sendiri. Kenapa sampai diberi pemimpin yang begitu, atau staf-stafnya yang berkhianat. Kalau negara kacau, dan pemimpinnya salah, rakyat harusnya mendoakan, membantu juga negara. Jangan mencemooh, atau menghina akibat buah kekecewaan pada pemimpin. Wong negara udah jelek masa dijelek-jelekin juga. Kalo udah maju, dijelek2in juga ndapapa, soalnya mau ngejelek2in apanya juga coba. Pun jangan manja dan hanya berarap dari sosok pemimpinnya. Pemimpin bukan pahlawan. Pahlawan itu tidak ada. "
Contoh simpelnya : Kita ribut-ribut demo bakar ban, nyolot-nyolot polisi gara-gara BBM naik, tapi tetangga sendiri dibiarkan makan nasi aking (misalnya). Atau kita banyak komplen soal susahnya tugas akhir sementara tetangga sendiri ada yang belum bisa ngaji, misalnya. (Tapi da emang hese sih TA euy kumaha deui .__.) Lalu apa hubungannya? Kebaikan suatu negara berasal dari kebaikan provinsinya. Kebaikan provinsinya berasal dari kebaikan kota-kotanya. Kebaikan kotanya berasal dari kebaikan RT RWnya. Kebaikan RT RWnya berasal dari kebaikan keluarga. Kebaikan keluarga berasal dari tiap individu di dalamnya.

Q.S Ar-Ra'd ayat 11


Kira-kira begitulah sore kemarin itu. Menurut saya, sudah bukan saat bermimpi mendapat pemimpin terbaik saja. Tapi juga membantu pemimpin untuk mencapai mimpi terbaik. Bersama. Bandung baru saja memilki walikota baru. Berdoa dan ikut berusaha untuk bandung yang lebih baik. Tahun depan Pilpres. Semoga Indonesia dianugrahi 'Singa Padang Pasir' seperti negeri yang makmur tadi. Amiin.

Bandung, 2 Agustus 2013. 07:04

*** 

Melihat kepemimpinan ala Ridwan Kamil sekarang, saya jadi ingat statement-statement yang dulu banyak menyudutkan bahkan cenderung meremehkan beliau, karena dianggap belum terlalu paham soal politik dan segala hal berkaitan dengan pemerintahan. Kenyataannya sekarang malah Bandung dianggap role model oleh kota-kota lain sebagai contoh penataan kota, pemerintahan, regulasi, pendekatan masyarakat, dan lain sebagainya.

Bandung Juara. Jargon yang sering terdengar di media-media terutama media sosial. Melalaui media sosial inilah, Kang Emil memanfaatkan waktu untuk sekaligus berinteraksi dengan masyarakat yang jumlahnya ribuan.

Saya jadi berpikir, dengan banyaknya penduduk Bandung, dan satu orang Walikota, tidak mudah menyelaraskan visi dan cita-cita. Masyarakatnya terlalu heterogen. Anggap kita sedang membandingkan dua masa. Tahun 1970-an dan tahun 2014. Jika pada saat itu, Pak Otje Djundjunan (Walkot Bandung periode 1971-1976) membuat banyak perubahan signifikan bagi kota Bandung, itu bisa disebabkan salah satunya karena masih sedikitnya penduduk kota bandung serta homogen. Sehingga mudah untuk menyatukan visi bersama.

Beralih ke masa sekarang, 2014. Jika 1 orang walikota memimpin suatu kota yang jumlah penduduknya sekitar 4 juta orang, heterogen, apakah mungkin semuanya mengikuti visi 1 orang itu? Mengatasi hal itu, ada sub-pemerintahan di bawah pemerintah kota seperti kecamatan, kelurahan, RW, hingga RT. Rukun Tetangga adalah sistem pemerintahan paling kecil yang mencakup beberapa orang saja.

Namun sepertinya sekarang saja satu RT saja terdiri dari puluhan keluarga dan bahkan tidak sedikit yang di dalamnya berbaur macam suku bangsa dan budaya. Heterogenitas ini cukup tricky jika disangkutpautkan dengan penyamaan visi suatu komunitas. Saya merasakan sendiri di karang taruna. Sub-sub terkecil ini saja masih rentan akan pro kontra suatu tujuan, visi. Banyak yang setuju, namun ada pula yang bertentangan. Dan kadang, mereka yang kontra ini malah memisahkan diri, membentuk komunitas baru.

Pertanyaannya sekarang adalah, apa perlu dibentuk sub pemerintahan baru yang menaungi suatu koloni masyarakat di bawah RT?

***

Tidak usah sepertinya. Andaikata tiap sub-sub kecil ini dipimpin oleh para pemuda terpelajar yang rela menyisakan waktunya untuk kegiatan-kegiatan sosial. Tujuannya bukan untuk pamer atau mencari popularitas, atau dalam istilah kekiniannya adalah pencitraan. If you wanna go fast, go alone. If you wanna go far, go together. Nah kalau mau far and fast, swasembada. Mandiri. Dimulai dari kumpulan terkecil dulu. Satu RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, hingga negara. Jika ada 10 pemuda terpelajar di suatu kampung punya tujuan sama, diutus ke 10 kelurahan berbeda, bukan tidak mungkin 1 kecamatan bisa berkembang pesat. Harus bersakit-sakit dahulu memang. Kenyataannya, tidak semua mau merana bersama sampai nantinya sukses bersama. Terlalu banyak distraksi bagi kaum intelektual muda sekarang.

13.10.14

Sekembailnya ke Bumi Parahyangan

Bandung, October 13th

Seringkali buah pemikiran yang ingin ditulis disini hanya berlalu begitu saja tanpa mau singgah sejenak di benak. Di jalan,di kereta, di sawah, di gunung, di warung kopi. Tidak mungkin saya bawa laptop kemana-mana untuk menuliskannya langsung, baik itu di software semacam mikocok word, notepad, atau blog yang terhubung langsung ke internet. Seringkali, sisa waktu di ujung hari hanya bisa dimaksimalkan untuk mencuci kaki, gosok gigi dan solat isya saja. Setelah itu tidur kembali, hingga besoknya memulai hari yang lain. Terus begitu hingga saya betul-betul meniatkan diri untuk menulis jurnal-jurnalan ini, seperti sekarang ini.

Sudah 2 minggu di bandung. Selain untuk break dari peringgrisan di pare, ada beberapa hal yang ingin saya lakukan.

***

Waktu itu, hari-hari pertama pulang ke bandung, pola hidup masih terbawa suasana pare yang damai, yang sesuai roda kehidupan masyarakat desa, masih bangun jam 5 pagi, tidur jam 9 malam. Tapi itu hanya bertahan selama 3 hari, sampai akhirnya saya kembali terbawa pada jam hidup kota metropolitan, dimana waktu untuk tidur adalah pukul 12 malam, dan bangun jam 8 pagi. Kadang masih sempat subuh, kadang bablas. Ada 1 kesimpulan yang bisa saya ambil dari fenomena ini. Ini yang berhubungan dengan diri saya pribadi. Saya hanya heran, mengapa saya merasa menjadi the best of me ketika berada di luar rumah? Di rumah bawaannya malas, ngantuk, tidak bergairah, bibir pecah-pecah dan sering buang air besar. Ini betulan. Akhir-akhir ini, kasur yang empuk adalah kasur terkejam bagi saya. Memang enak, sampai siang saya masih bisa leyeh-leyeh. Tapi kalau dipikir-pikir, kasur ini kejam karena merampas waktu-waktu berharga yang selama ini harusnya bisa saya isi dengan aktivitas penggerak badan. Beda dengan di pare. Kamar seperti neraka bocor bahkan jadi motivasi tersendiri biar banyak-banyakin aktivitas di luar. Cepet-cepetin bangun dan mandi waktu udara masih segar, olahraga, makan teratur, dsb.

Mungkin ini sebabnya orang bandung dikenal sebagai orang yang selow karena kondisi geografis dan suhu kota yang berpengaruh pada psikologisnya. Berbeda dengan orang makassar atau medan yang notabene kotanya panas, maka sifatnya pun cederung keras, tapi bukan kasar. Dalam hal usaha atau pekerjaan pun sama saja. Saya seringkali jengkel melihat tetangga yang maunya enaknya saja tapi usahanya minim. Atau di organisasi pun seperti ini. Padahal sebetulnya apa yang dicita-citakan tentunya untuk kemaslahatan bersama. Dan lagi-lagi, statement "selow weh atuh da masih lila" (selow aja lah masih lama ini) menjadi senjata untuk berdalih.

***

October 4th.

Idul Adha adalah salah satu alasan saya pulang ke Bandung. Selain untuk perbaikan gizi, juga perbaikan ekonomi. Pagi hari itu, ketika saya masih diselimuti belek dan jigong, pak RW menyatroni rumah. Entah si Pak RW yang sudah tau nama saya, atau cuma tau rumahnya dari hasil googling. Dia tiba-tiba ngasih kabar kalau besok ada takbir keiling ke lapangan tegalega. Instruksi tambahannya, kumpulkan 50 orang. Ebuset..secepat itu? Kenapa gak dari dulu, kenapa baru ngasih tau H-1? Yaa saya sih berusaha profesional, walaupun kenyataannya yang berhasil terkumpul hanya 14 orang. Tapi jumlah yang sedikit ini digabung dengan kecamatan lain, dan kami tetap berangkat sore harinya menjelang malam takbir.







October 5th.

Sepulang solat Ied, bergegas ambil kamera dan seperangkat alat jagal, menuju lapangan Pak Syarif. Di sana ada 2 ekor sapi. Yang 1 hasil donatur tunggal, satu lagi hasil dari 7 orang donatur. Di akhir, alhamdulillah diperoleh sekitar 500 bungkus daging beserta jeroannya untuk dibagikan ke warga.










October 10th

Mendengar cerita-cerita kawan-kawan soal acara terakhir Karang Taruna buat saya sedih. Katanya chaos, minim SDM, dan kendala-kendala lain. Dan menurut kabar, di hari-H acara puncak, 'petinggi-petinggi' di karang taruna yang seharusnya mewakili saya yang saat itu masih di Kediri, eh malah ikutan menghilang. Bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan sih memang, hanya saja, seorang perwakilan, utusan, atau siapapun yang diberi amanah sudah sepantasnya memenuhinya. Bukan 'melarikan diri' meskipun ada acara yang lebih penting. Jika memang kondisi saat itu, acara sudahlah tidak kondusif, seorang pemimpin harusnya berada di garda paling depan, bukannya bermain petak umpet dan anggotanya mencari-cari. 

Acara puncak memang sudah berlalu. Hampir seluruhnya kembali ke kesibukannya masing-masing. Sekolah, kuliah, kerja. Sedikit sekali yang masih peduli atau sekedar mampir di sekre. Daripada diam, saya coba rintis usaha kecil-kecilan bersama karang taruna ini. Meskipun kecil, kalau memang menjalaninya dengan tekun dan ikhlas, yaa why not? Insya Allah berkah. Grand Launchingnya diadakan hari ini. 












***

Alhamdulillah, sudah 4 hari ini sold out di bawah 3 jam. Padahal, kuantitas adonan dan bahan-bahan lainnya bertambah dari hari ke hari. Semoga dimudahkan dan dilancarkan rezeki kami Ya Rabb.

26.9.14

Bad Ending

September 27

Kejadian malam tadi hampir adu tangan vs. clurit sama orang mabok. Alkisah habis futsal sama anak-anak Zeal. Biasa, setiap jumat malam ada futsal rutin. Pulangnya si Ari kemalingan. Untungnya cuma hp jadul + powerbank, soalnya dompetnya ketemu. Selidik punya selidik, katanya pake motor satria. Dari tempat futsal, semua rombongan futsal coba mengejar itu maling. Pakai sepeda.

Jam 23.45 WIB. Masih dalam keadaan panas, kami coba mencari itu maling sambil pulang melalui jalan lain, memutar. Di jalan brawijaya, salah satu anak pelayaran yang notabene anak camp juga, merasa diludahi oleh orang tak dikenal di pinggir jalan. Mencoba bertanya baik-baik, eh malah salah sangka. Disangkanya ngajak ribut, tapi kan... memang ngajak. Mungkin merasa panas. Adu mulut dan adu jotos tak lagi terhindarkan sodara sodari. Jumlah kami 20 orang, sedangkan mereka cuma 4-5 orang kalau tidak salah. Tetapi kami kalang kabut ketika salah seorang dari mereka mengacungkan clurit. "Ya bukan masalah gak berani bro. Kita orang asing di sini masa mukulin orang sini. Sukur kalo selamet, kalo pulang kepala buntung gimana?" kata salah seorang anak pelayaran itu. 

Saya bersama Mr. Mansoor yang juga anak pelayaran berada di belakang. Kami ditinggalkan rombongan yang sudah kocar kacir ke arah berlawanan. Konsekuensinya kami dimarahin warga. Sampai di camp, suasana masih panas, saya sudah ngantuk. Jam 1.02 pulang ke kosan. 

***

Hari-hari tanpa course saya habiskan di kosan. Mau itu kerjaan freelance, mau itu maen PES, atau sekedar practice speaking. Rencananya pulang selasa besok. Anehnya, saya tidak merasa homesick atau rindu berat kampung halaman. Mungkin karena kampung ini sedikit banyak memberi perubahan besar pada habit saya. Bangun subuh, solat jadi (agak) rajin (dikit), peduli pentingnya waktu, bergaul sama orang dari macam-macam etnis, dan sebagainya. Kalau di bandung, kadang jadi pemalas.

***

Hampir tiap malam si Abeng bicara soal teman perempuannya di kelas grammar yang jadi idola satu lembaga itu. Saya tidak terlalu tertarik soal seperti apa penampakannya. Tapi si abeng bercerita seolah-olah perempuan itu bidadari. Di kampung ini, hampir 90% perempuannya cantik. Berkerudung dan rajin mengaji. Memang kebanyakan dari daerah, tapi auranya menenangkan. Saya bertemu perempuan seperti itu di salah satu lembaga kursus. Dia adalah tutor kelas speaking with grammar. Orang Tegal dan seumuran saya, sepertinya. Unfortunately, she said that she's unmarried but officially unavailable. 

***

Well, underwear gua perlahan-lahan hilang! Pada kemana ini maygat! Gawat! Tak seharusnya kehidupan di Pare harus berakhir sengsara seperti ini.

23.9.14

Grateful

September 22

Kemarin baru upgrade sepeda. Pepanjangan waktu untuk 2 minggu ke depan. Dan sebelum masuk ke rumah yang punya, saya dapat surat wasiat seperti ini.


Inilah makanan paling fenomenal di Pare. Namanya Tansu, akronim dari Ketan Susu. Kalau ke Pare, rasanya belum afdol kalau belum pernah menikmati (antrian di warung) ketan susu di jalan pancawarna ini.


Malam harinya saya diajak ke kantin Jendela Mimpi. Di sana ada event mingguan semacam ted talk tapi dikemas dalam suasana kafe. Speaker di sana mostly member-member elfast, salah satu lembaga di sana. 



Kelas terakhir active speaking. Sedikit ngobrol-ngobrol dengan Mrs. Anfa soal IELTS.


***

Kemarin malam, ada seorang speaker yang bicara di depan kantin Jendela Mimpi. Dia bilang dia belum mempersiapkan materinya. Tapi karena merasa ditantang oleh MC, dan dia adalah seorang yang agak panasan, dia maju juga. Dari nada bicaranya, dia gugup dan bergetar.

"Gue jujur aja, gue tegangm gemetar bukan karena gue takut, tapi karena gue malu. Sebut aja gue dari  sebuah daerah yang belum pernah lo ketahui sebelumnya. Dari sebuah universitas kecil yang lo gak pernah tau. Gue gugup karena gue berada di tengah orang-orang hebat. Pare ini kota hebat. Gue bisa ketemu orang-orang dari latar belakang pendidikan yang luar biasa hebat. Dari perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Tapi satu hal yang gue sadar, gue gak bisa jadi emas kecil di tengah emas-emas berkilauan di Pare ini. Tapi gue bakal berusaha buat tetap jadi emas jika satu saat emas-emas besar itu lupa akan dirinya, lupa jati dirinya, hingga mereka terjerumus ke dalam tepung putih yang menutupi kilaunya."

***

Pagi harinya, bang Alfa bilang hal serupa.

"Di Pare ini, saya bersyukur. Bisa ketemu orang-orang hebat dari berbagai tempat, universitas. ITB, UGM, bahkan Al Azhar Kairo, Mesir. Dari pertemuan-pertemuan kecil ini saya belajar banyak hal."

***

Baru saja, sepulang course jam setengah 7, saya makan di warung langganan, mubarokah. Selesai makan, ngobrol-ngobrol sama si Rafi. Waktu mau pulang, saya dicegat bapak yang punya warung. Beliau ngajak saya duduk dan ngobrol sebentar.

Beliau bercerita soal anaknya yang punya bakat seni rupa, menggambar dan melukis. Sekarang ini putrinya masih sekolah di kelas 8 Mts. Lantas sang bapak meminta saran saya soal anaknya. Jika nanti lulus Mts, baiknya masuk jurusan apa, kerja ke depannya gimana kalau anaknya jadi 'tukang gambar' melulu, katanya. Lalu tanpa maksud sok tau, saya sih jelaskan sebisanya, dan berusaha support sang bapak.

Baru-baru saya tahu, kalau bapaknya ini ragu akan masa depan anaknya jika sang anak cuma bakat di seni, sedangkan science-nya gak terlalu. Baru-baru saya juga tahu kalau bapaknya ini sangat ingin berkuliah seperti anak-anak kuliahan yang sering ke warungnya.

Sepanjang jalan pulang, saya mengucap syukur atas kesempatan mengecap berbagai jenjang pendidikan.

19.9.14

Sarapan Pagi - TED Talk about 3D Printing

September 21

Kuota internet smartfren (which is not really smart and friendly) saya bulan ini sudah habis. Cukup menyiksa bagi kaum eksekutif muda seperti saya yang menempatkan internet pada list nomor 6 dalam kebutuhan primer setelah rukun islam. Jadi saya mengungsi ke warnet dekat kosan. Ambil paket 2 jam tapi baru 5 menit duduk ada kendala sama panggilan alam. Tapi saya acuh saja. Ya itu derita pelanggan berikutnya kalau tempat duduknya becek-becek bau.

Tapi bukan soal itu yang ingin saya bahas. Niatan saya ke warnet pagi ini ada 2 : cek email dan nonton TED. Sudah sekian lama saya kehausan nonton TED. Ya seperti yang saya bilang tadi, jangankan nonton video online, buka blog begini saja bikin overheat modem juga perut. Atau dalam bahasa sunda biasa disebut nasteung (panas beuteung). Untunglah pagi-pagi seperti ini warnet di kampung ini belum banyak anak-anak yang main dota, jadi bisa nonton/download banyak video TED.

Ada 1 talk yang menarik. Soal teknologi 3d printing. Judulnya : What's Next in 3d Printing. Sebenarnya saya sudah tau teknologi macam ini sejak masuk kuliah. Tapi waktu itu masih sebatas yaa print-print bidak catur, mainan, lego, dll. Sekarang teknologi ini improve-nya udah beyond imagination aja. Coba saja tonton.



Di bidang medis, buat kaki prostetik atau support buat penderita skoliosis ibarat bikin mie instant. Hasilnya pun sudah memenuhi kaidah ergonomi tubuh manusianya. Di bidang kuliner, tinggal download resep, upload ke alatnya, dan tinggal nunggu 'Ta-daa' moment buat liat hasilnya dalam hitungan menit. Material buat nge-print makanan ya pasti beda sama buat nge-sol sepatu. Di bidang arsitektur, jelas buat bikin model berskala. 

Prospek paling menjanjikan itu adalah di ranah desain produk (kepedean). Ya kalau dipikir pikir, back in early 20th century, revolusi industri itu produk-produk masih diciptakan 1 saja untuk 1 atau 2 orang. Begitu ada mesin-mesin pabrikan, produk-produk jadi bisa mass production. Prediksi saya, sekarang sih kembali ke revolusi industri, jika dilihat dari sisi kebutuhan produknya. Manusia akan butuh produk yang spesifik untuk dirinya. Atau manusia hanya ingin produk yang membuat dirinya beda/unik dari yang lain. Individualis?

Ya kita lihat saja apa jadinya nanti.

18.9.14

Krisis Moneter

September 19

Bibir agak kelu. Setiap pagi ikut kelas speaking  sedikit banyak merobek otot-otot bibir saya. Mungkin 5 hari berikutnya bibis saya bisa sixpack.



Kelas-kelas pagi ini tidak ada yang terlalu spesial. Wong memang kegiatannya memang bicara saja. Yang membuat hari ini spesial adalah, saya benar-benar kehabisan uang. Di dompet hanya tersisa 1.200 rupiah. Di ATM juga habis. Untunglah masih ada kerjaan kerikatur. Meskipun tiap malam harus tidur di atas jam normal, mau tidak mau saya harus selesaikan gambar pesanannya demi menyambung hidup. 

Hidup semakin berat. Tapi Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa dilampaui oleh makhluknya. Saya percaya itu.

16.9.14

How to Explore East Java in 6 hours

September 14

Agak sulit mencuri-curi waktu, akhir-akhir ini. Brendelan speaking classes dari pagi hingga sore hari membuat nama saya tersempil di daftar manusia-manusia angkatan 66. Pergi jam 6, pulang jam 6. Sementara ingus ini mengalir cukup deras, saya coba kerahkan sisa-sisa tenaga untuk update jurnal-jurnalan ini.

Awal kemunculan demam, flu dan batuk ini besar kemungkinan sudah ada sejak 2 hari lalu. Weekend kemarin saya dan kawan-kawan sePare berusaha memecahkan rekor Muri kategori : Travelling 3 tempat yang jaraknya di atas 100 km dalam waktu 6 jam naik motor. Tapi nyatanya, kami malah masuk rekor nyeri. Nyeri badan nyeri-nyeri-nyeri moal beunang diubaran.

Tadinya ini hanya acara jalan-jalan santai ke kota. Mau melihat peradaban, kata si Bang Jamal. Maklumlah selama di Pare ini kami - manusia-manusia kota - lama tak melihat mall. Nyewa motor dengan paket 12 jam. Jam 11 siang kami berangkat. Ke mana? Destinasinya baru ditentukan setelah 300 meter berangkat. Pertama, Kelud.









Kasihan si Kelud. Dulunya rindang sekarang gersang. Malah lebih mirip Arizona. Sayang, jalan ke puncak masih ditutup.



Lalu berlanjut ke Blitar. Sekitar 30 km ke arah selatan dari Kelud. Di sana lebih terkenal dengan wisata ziarahnya karena banyak sekali makam-makam. Yang paing terkenal dari blitar adalah makam Presiden Soekarno. Tidak banyak foto yang saya ambil di sini karena memang kurang etis berfoto-foto di pemakaman. Ada hal-hal yang hanya bisa dinikmati oleh hati yang khusyuk tanpa ada jepretan kamera.






Terakhir adalah Simpang Gumul Kediri, atau yang lebih dikenal dengan Arc De Triomphe-nya Kediri. Karena hampir malam, dan jam penyewaan motor pun hampir habis, ya pulanglah kami ke alamnya masing-masing. Oleh-oleh dari perjalanan ini : Badan yang rasanya terinjek mobil setum PU, bersin-bersin indikasi bakal pilek, dan sepatu kotor debu Kelud.


***


Sialnya, besok ada presentasi. I haven't prepared yet for it. Mana temanya tentang politik pula. Dengan gagah berani, saya putuskan bakal speech sambil berakting sebagai calon presiden RI. Sebelumnya saya lihat-lihat referensi: Obama's Inaugural Speech, Hillary Clinton Speech, dan tokoh-tokoh lain. Hasilnya alhamdulillah lah mayan. Meskipun sambil a eu a eu srot a eu a eu srot sedot ingus.


12.9.14

When in Rome, do as the Romans do.

September 11

Smart Quiz. Evaluasi materi 2 minggu yang lalu yang dibawakan dengan permainan santai. Tim saya namanya Fortune, sama si nadif, satrio, fani. Saya dipilih jadi leadernya, juru bicara juga.



Hasilnya, ya tim kami menang lah. No wonder kan ada gua. Hadiahnya voucher lunch di warung lamtana. Alhamdulillah.


Tapi saya memutuskan untuk menukarkan vouchernya besok saja.

***

When in Rome, do as the Romans do.

Siang ini makan biasa di mubarokah. Ada 2 orang anak muda yang duduk di seberang. Dari obrolannya, mereka dari Jakarta. Dengan bahasa gue elu dan aksen 'tinggi'nya, mereka bicara soal rencana weekend ini. Namanya di warung, obrolan itu seringkali macam-macam. Semua orang bebas berpendapat, bebeas bersuara. Namun, yang buat saya terganggu adalah, cara kedua pemuda Jakarta ini ketika bicara. Tinggi. Bukan intonasinya, tapi pilihan katanya. Seperti bicara di depan teras rumahnya saja. Seenaknya. Belum lagi kata-kata kotor yang tidak sepantasnya dibicarakan keras-keras di tengah lingkungan yang amat sangat menjunjung tinggi sopan santun dan budaya ramah. Gak pake otak. Seperti idiom di atas, mestinya tau diri, tau tempat. Jaga attitude.

Sore ke peace. Kelas 100% English. Agak telat gara-gara tutor di program sebelumnya di tempat lain itu ngaret melulu. Paksa-paksa ngayuh sepeda dari ujung ke ujung kampung inggris.



Ada yang buat saya kagum hari ini. Bertemu sosok yang menginspirasi. Namanya Pak Purwanto from Semarang. Meskipun umurnya sudah berkali-kali lipat dari umur saya, beliau tetap mau belajar. Mau mencari ilmu tentang bahasa Inggris. Tidak gengsi berbaur dengan anak-anak muda. Yaa mungkin menurut beliau, prinsip 'tidak ada kata terlambat' itu menjadi motivasi baginya. Good luck, Sir!

11.9.14

Latepost - Craziest Weekend 1500 km

September 6-8

Sudah memasuki masa-masa akhir periode 2 mingguan di pare. Beberapa course yang saya ambil sudah selesai. Pronunciation class dan vocab class selesai hari ini, sedangkan speaking class masih lanjut 2 mingguan lagi. Sebagai bentuk penghormatan kami pada guru ter-awesome (dengan merasa terpaksa nyebut itu), kita berfoto sama mister katria beiber. Ya terserah deh dia mau disebut apa, supaya seneng aja.hahaha just kidding sir. You're great teacher, no exception. I admit it.


Kalau yang ini foto speaking class. Ambil foto cuman gara-gara ada satu member yang bakal pulang hari ini, padahal periode belajarnya masih 2 mingguan lagi. So, goodbye Aswar!



Malamnya, futsal terakhir bersama anak-anak Zeal. Biar habis sekalian dalam satu hari. Puas-puasin bercengkrama sama banyak orang. Oya hari itu juga saya makan di warung langganan Mubarokah, dan rada diluar nalar. Sekalian pamit sama si ibu dan bapaknya.

***

Spending this weekend by travelling around 1500 kilometers is the most ridiculous thing that I've ever done in my life. Pare-Bandung-Pare dalam 3 hari. Tua dijalan. Dari Pare saya berangkat jam 11 siang, karena ngejar kereta jam 2. Takut terlambat.


Weekend kemarin sebenarnya sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Dalam bayangan saya, saya akan melakukan sesuatu paling sibuk yang pernah dilakukan manusia tersibuk. Makanya, saya sempet-sempetin deh ke Bandung. Plan awal : Ketemu si rendi ngomongin start up bisnis + brand, ketemu si gun ngomongin proyekan buku doi yangbelum kelar, bayar hutang sama si dini dan anak-anak satgas PKM taun lalu, dan tentu saja karang taruna yang sudah lama saya terlantarkan.

Kenyataannya selalu berseberangan dengan ekspektasi. Dari semua itu, hanya dua rencana yang sempat. 

Sesampainya di stasiun bandung jam 4 pagi, saya bertemu si lukman dan dedi yang hendak pergi ke lembang, beli susu murni. Baru-baru saya tahu kalau karang taruna sekarang berjualan susu dan pempek. Karena tersentuh dengan semangatnya, saya juga jadi ikut ke Lembang beli susu, walaupun badan rasanya mau ambruk. Ya tau lah namanya efek samping kursi kereta ekonomi.





Malamnya, traktir anak-anak satgas PKM, dengan harga yang...naudzubillah bikin heart attack. Di sisi lain, kita silaturahmi dan bertemu wajah-wajah baru.



 ***

Pulang kembali ke Pare hari senin malam. Melewati 2 pertemuan speaking class tapi tak apa. Pagi-paginya tumben-tumbenan kumpul, makan ayam penyet di bu tien. Dapet pepatah dari si bapaknya soal anak muda. Pelajaran hari itu : Anak muda itu gak usah gengsian. Sir yes sir! Noted!

 




Harga dari Rasa Syukur

Beberapa tahun sudah saya coba menutup buku usang ini tempat berbagai kelelahan pikir tertumpah. Ada masa ketika segala kecamuk dalam dada t...