8.5.14

Orang tua ngapain masih ikutan?

| Mei 5 |

Itu bahasanya adik-adik kelas yang doyan kali guyonin saya. Apa mau dikata. Sore diminta menjadi moderator hearing pemilu inddes. Rupa-rupanya ngaret. Tipikal waktu indonesia SR barangkali. Jam 5 baru mulai, di ruang seminar. Untung ada oji gilang, bukan saya saja yang kena guyonan-guyonan macam itu.

Selesai hearing+musyawarah jam 11 malam. Doi pulang duluan. Duh ilah tak karuan.

| Mei 6 |

Belum genap seminggu saya di Bandung, kini harus kembali ke luar negeri.Negeri domba dan dodol. Pagi nian mencegat mobil elep/elp/elf jurusan garut. Tiba di kadungora sekitar jam 10.

Ada agenda nge-mural tembok playgroup yang baru dibuka. Ada cerita di balik ini. TK ini namanya Attarbiyah. Berlokasi di Kadungora Garut. Awalnya lokasinya bukan di sini. Tapi disono. Kurang tahu saya. Karena di sana ada sengketa lahan, para guru tidak mau anak-anak jadi terganggu studinya. Lalu ada seorang ibu peri haji yang berbaik hati bersedekah rumah bekas kontrakan buat dijadikan pengganti. Dengan seijin ibu peri itu, pindahlah ke mari. Kabarnya baru mulai dipakai hari kamis ini.

Berarti saya harus kerja cepat kerja hemat. Selain dana yang pas pasan, kalau kena terik matahari terus-terusan kulit ini bisa jadi padang pasir.



Kira-kira begini penampakan akhir. Saya harus rajin-rajin menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para penonton. Ini apa itu apa. Kok pintunya lebih kecil dari orangnya? kok airnya warna ijo? kok ini kok itu. Tapi tentu, jawaban saya tidak pernah memuaskan mereka, karena logika mereka merasa dilecehkan oleh imajinasi liar tukang gambar ini. Bahkan si pemilik TK, pak haji peri, selalu menyebut gambar ini dengan "abstrak". Baginya, di dunia ini hanya ada dua tipe gambar. Pertama, segala gambar yang tidak masuk nalar itu abstrak, selain itu, realis. Saya hanya senyam senyum.

Dua hari kemudian baru pulang ke kota. Coba-coba naik kereta. Sorenya baru ke stasiun cicalengka. Hanya bayar 1.500 perak saja saya sudah disuguhkan pelayanan 150.000. Bagi saya, gerbong yang ditambah AC adalah kelas mewah. Barangkali hanya 40 menit buat kereta ini sampai di cikudapateuh. Turun dari sana lanjut angkot. Bukan waktu yang tepat pulang di saat arus balik para pekerja kota.



| Mei 8 |

Tak banyak waktu yang bisa saya pakai untuk tidur atau sekedar leyeh-leyeh saja. Padahal badan sudah  copot-copot bautnya. Pagi hari antar produk ke tepi jalan. Si hanif bawa mobil buat ngirim produk ke pameran. Sebetulnya saya nggak begitu plong. Modelnya elek gitu masa dipamerin. Posternya belum, sore nanti diantar, saya bilang.

Persib vs. persija. Sudah paham saya kapan harus turun ke jalan. Ya pasti waktu mereka tanding. Selain bobotoh-bobotoh lagi cicing di stadion, bapak-bapak bermotor di jalan juga pada nyisi dulu buat mampir ke indomaret, sok sokan beli banyak padahal cuma akua, dan padahal cuma pengen liat TV lagi nyiarin pertandingan persib. Jadi, saya baru keluar jam 4, bawa onthel soalnya malas buka tutup bensin motor yang susah dibuka. Ngeprint poster dulu baru lanjut ke braga. Checked!



Niat awal tidak berlama-lama. Karena keliatan ada banyak kerjaan, saya coba bantu-bantu sekuatnya dan semaunya. ha ha. Biar, ini kan pameran mereka. Biar mereka yang merasakan sensasinya, untuk pengalamannya. Hujan deras di luar. Saya nengok dari plafon lantai 2 gedung pgn ini. Berandai-andai jadi anak majoor inderlan yang punya rumah di sini. Pantes belanda betah 3 abad di negeri ini. Di luar pemandangannya elok sedap dipandang.





Sudah, saya harus pulang, karena sudah dipanggil kaka slank supaya tidak terlambat sampai di rumah. Bukan karena ditunggu mama, ada kerjaan 3 untuk weekend.

***

Bincang-boncang sama si koko rendi pemilik usaha baju muslim al barokah tapi doi itu, cina. Soal-soal saya yang sedang kalut meminta nasehat. Apalagi kalau bukan cewek. Yang begitu harus banyak-banyak bertanya pada yang ahli dan berpengalaman.

No comments:

Post a Comment

Harga dari Rasa Syukur

Beberapa tahun sudah saya coba menutup buku usang ini tempat berbagai kelelahan pikir tertumpah. Ada masa ketika segala kecamuk dalam dada t...