16.5.14

Perempuan

Semesta punya masanya untuk memihak pada siapa. Ketika dia di pihakmu, ucaplah syukur sebanyak-banyaknya, karena itu tidak akan terjadi terus menerus. Ketika dia bukan di pihakmu, bijaksana bukanlah sebuah keterpaksaan, namun sebuah sikap yang sewajarnya muncul sukarela.

Kalau saya bicara soal perasaan, semesta, lagi-lagi, mungkin sedang tidak di kubu saya. Ia dan Gusti Allah Yang Maha Agung punya kuasa. Saya? apa daya.

Perempuan. Yang baru saja aku lihat seksama dalam-dalam matanya, ternyata semesta belum sepihak. Namun, saya akan kembali pada satu ketika. Untuk bertanya kembali apa yang dimaksud cinta. Bukan untuk saya, bukan untuknya. Tetapi mencari kebenaran semesta, jika memang dua insan ditakdirkan bersama. Itu saja.

If I die trying, at least i tried.


No comments:

Post a Comment

Harga dari Rasa Syukur

Beberapa tahun sudah saya coba menutup buku usang ini tempat berbagai kelelahan pikir tertumpah. Ada masa ketika segala kecamuk dalam dada t...