| Juni 9 |
Warung baru dibuka, tapi satu bocah ini sudah panggil-panggil saja di luar kamar, ketuk-ketuk pintu. Sudah seminggu saya tak jumpa. Kata si ibu, dari 3 hari semenjak saya ke luar kota, ini bocah selalu bertanya kapan saya pulang. Pantas saja hari ini dia berapi-api ngajak bersepeda di lapang bola, meskipun batuk-batuk. Jadinya, cucian saya tunda dulu.
Jam 9an saya tidur lagi karena mungkin bangun kepagian. Niatnya mau sebentar, apa daya 2 jam dilabrak saja. Mimpi aneh. Bisa-bisanya mimpi buruk pagi-pagi. Apa ya. Mungkin soal setan-setanan lalu soal dajjal. Naudzubillahimindzalik. Saya bangun sambil ngos-ngosan. Tapi tidur lagi. Mimpi buruk lagi. Sial. Kenapa ini?
Bandung ini anomali. Di saat kota lain sedang bermanja-manja sunbathing, dia malah masih asyik main air. Hujan dari siang. Sore hari berencana lari di saraga. Untungnya hujan reda tepat pada waktunya. Saya kayuh si bontel sambil bawa perlengkapan. Di saraga dari jam stengah 5 sampai jam stengah 6. Hanya kuat 6 putar lari + 2 putar jalan capek. Selesainya, mampir ke salman. Di dinding masjid ada reminder. Ramadhan H-19. Saya belum berlatih jurus-jurus ramadhan, ini gawat!
Ketemu si luki mantan menteri advookasi km. Minggu depan dia sidang akhir. Mudah-mudahan saya sempat. Ketemu si nathan yang lagi pompa ban motor, Titi yang cerita soal KP-nya di dedato, rara, juga najem. Tapi begitu. Saya buru-buru pulang. Mampir ke Disc Tarra. Hunting CD Ghost Storiesnya Coldplay. Saya penasaran setelah kemarin nonton live concertnya waktu launching album ini. Overall, merinding.
***
Sudah sangat amat teramat ngantuk sebenarnya, saya ini. Tapi 1 hal yang mengganjal dan haram hukumnya dibawa tidur. Soal debat-debatan capres tadi sih. Sekarang perhatikan siulan-siulan medsos berikut via twitter.
Di saat mahasiswa dari Lund University sudah buat alat pembayaran pakai sidik jari (Quixter), di saat desainer 19 tahun dari florida bisa buat konsep mobil masa depan (Buick), dan di saat kita semua tidak begitu menyadari bahwa kita adalah tontonan pengocok perut bangsa dunia. Karena begitu lucunya. Barangkali, srimulat dulu bubar karena kalah lucu dengan tingkah kita sehari-hari, yang tidak kita sadari, bahwa kita adalah bangsa yang sudah berubah. Lebih-lebih soal budaya. Degradasi empati? Mungkin.
Saya ndak paham betul soal politik tapi ndak tolol-tolol betul juga. Dari jaman masuk organisasi kampus dulu saya belajar itu sedikit-sedikit. Tapi diam bukan berarti tidak paham. Mungkin saya anomali. Malas berkicau-kicau yang gak penting-penting amat atau tujuannya bukan sesuatu yang berguna. Waktu yang dibuang apakah sepadan? Mungkin dikira apatis. Tapi saya ndak merasa begitu




No comments:
Post a Comment