Sudah masuk hari ke-13 Bulan Ramadhan. Kemarin-kemarin semangat saya mulai turun ketika banyak sekali kegiatan, atau lebih tepatnya sibuk-sibukin diri sendiri. Saya baru sadar lagi setelah buka 2 hal. Kalender dan Qur'an di atas printer. Buka kelender, ternyata udah mau setengahnya saja ini ramadhan lewat. Buka Qur'an, ternyata gak maju-, mentok di An-Nisa. Pengalaman tahun lalu, ketika bulan ramadhan tidak banyak berbuat baik, Idul Fitri hanya sebatas seremoni. Padahal harusnya hari besar. Ibaratnya naik gunung, sudah bersusah-susah lewat lereng, bukit terjal bebatuan, atau gelapnya malam, di ujung sana menanti panorama indah ciptaan Maha Kuasa. Sama saja. Ini bukan soal gunung atau bulan ramadhan yang harus ditaklukan, ini soal menaklukan diri sendiri dari sifat-sifat lemah dan mudah menyerah. Di sisi lain, ini juga soal mencintai dan menghargai diri sendiri. Seperti apa bentuk cinta dan penghargaan itu? Jawabnya ada, di ujung bulan ini, bukan di ujung langit. Soalnya kalau jawabnya ada di ujung langit, kita kesana dengan seorang anak.
Salah satu kesibukan kemarin (dan masih sampai sekarang) adalah ngedesain+ngelayout bukunya si gun. Kalau ngedesain cover atau bookmark gitu mah simpel saja satu hari bisa kelar. Yang buat lama itu layouting, karena musti banyak penyesuaian sama font, margin, konten, dan mriki-mriki lainnya. Kalau ngelayout, secara tidak langsung pasti membaca tulisannya walaupun selewat-selewat. Yang saya baca soal tulisan-tulisannya, yaa seperti biasa lah tipikal si gun yang melankolis dan sarat akan 3 hal : laki-laki, perempuan, perasaan. Dari 3 kata itu bisa dia imajinasikan menjadi banyak tipe tulisan dengan konflik yang bermacam-macam. Kebanyakan konflik batin sih. Saya kurang tau apakah itu imajinasi atau pengalaman pribadi. Kalau boleh bilang, tulisannya memang bagus, kepikiran gitu kata-kata macam begitu. Tapi entah kenapa ada pula yang kurang saya sukai. Saya pun tidak tahu. Tapi kalau untuk pembelajaran hidup terutama soal hubungan remaja, tulisannya recommended buat dibaca.
***
Kemarin waktu pilpres, itu kan bukan musim dingin berkepanjangan. Tapi saya hibernasi gila-gilaan. Dari subuh, bangun jam 2 siang. Bangun sebentar lalu tidur lagi sampai magrib. Seharian menjadi 93% soleh karena dari sahur sampai buka diisi dengan "ibadah". Luar biasa. Luar biasa pusing maksudnya. Kepala pening dan badan juga bawaannya lesu. Sebab utamanya karena beberapa hari ini selalu begadang di sekre tarka. Entah itu main PS atau krambol atau sekerar ngobrol-ngobrol menunggu waktu Sahur Calling-ling. Ditambah kerjaan lain. Maka oleh sebab itu, kebiasaan seperti ini harus segera dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kesehatan dan peri-kitiw.
Tapi yang buat hibernasi kemarin begitu teringat-ingat itu karena bunga tidurnya. Bermimpi bertemu orang yang dirindu dengan ucapan yang masih terdengar merdu. Sepertinya tidak akan terlupa sampai lebaran tahun depan. Atau mungkin tahun depan bertemu orangnya langsung. Tapi itu kelamaan.
***
Ada banyak berita heboh akhir-akhir ini. Pemilu dengan segala intrik tahu brintiknya, Piala Dunia, dan Gaza. Yang pertama, kita bisa berperan serta + berdoa sekaligus demi kebaikan negeri. Yang kedua, tidak usah ikut peran atau berdoa. Yang ketiga, untuk sementara, saya hanya bisa berdoa dulu. Kalaupun soal memberi bantuan berupa materi, semoga Allah memberi rezeki. Dan kalau soal memberi bantuan berupa pikiran, saya coba bantu sesuai ilmu yang dikuasai. Dan untuk berita-berita yang berada di media sosial, saya tidak ambil pikir. Sifat kebenarannya mungkin fakta, mungkin juga fitnah. Daripada salah, mending tidak usah. Jadi begitu menurut saya.
No comments:
Post a Comment