5.7.14

Paradoks Sepi di Tengah Ramai

Kita adalah manusia-manusia malang. Ingin dikasihani namun tidak ingin terang-terangan. Apakah seorang pemimpin tidak berhak dikasihani? Apakah seorang pemimpin harus selalu terlihat kuat? Sehingga masalah pribadinya adalah nomor sekian setelah masalah-masalah orang lain yang harus ia selesaikan. Atau, sebenarnya saya ini memang pemimpin yang baik atau bukan? Karena seringkali pikiran seperti itu muncul ketika rasa jenuh yang menghampiri.

Menjadi pemimpin berarti siap akan kesendirian. Ia akan lebih banyak berkorban untuk kepentingan khalayak banyak daripada keinginan dirinya sendiri. Menjadi pemimpin berarti siap untuk selalu tersenyum kepada kaumnya untuk mendorong agar tetap optimis, meskipun dia sendiri sedang tidak dalam suka cita. Menjadi pemimpin berarti harus paling terdepan menerima pahit, dan paling belakang menerima manis, setelah orang lain mengecap manis itu, atau bahkan terkadang tidak sempat mencicipi manis itu. Menjadi pemimpin berarti siap menjadi yang paling akhir akhir dalam hal mengurusi hidup untuk masa depan anak cucu, karena sebelumnya ia harus terlebih dahulu merelakan masa-masa itu untuk kebaikan banyak orang yang juga ingin punya anak cucu. Menjadi pemimpin berarti haruslah membagi cintanya sama rata pada sekitarnya.

Saya ini sedang jenuh. Mengadu atau berkeluh kesah tidak bisa pada sembarang orang. Berbicara panjang lebar di sini sama halnya mengutuki pilar-pilar jembatan pasopati ketika dini hari. Dingin saja tanpa rasa.

Kalau ini rasanya hampa, manusia pasti masih bisa hidup di luar angkasa. Intinya, ada hal-hal yang membuat hidup saya kosong. Ingin melengkapi tapi tidak tahu caranya, meskipun saya tahu hidup ini tidak akan pernah terasa lengkap. Menunggu itu bukan cara.Itu kondisi setelah kita telah berusaha sekuat tenaga. Dan jika yang saya lakukan ini hanyalah menunggu saja, semoga itu benar-benar berharga dan layak untuk ditunggu.

***

Jika Muhammad hebat karena Aisyahnya, dan Soekarno tangguh karena Fatmawatinya, maka aku ingin ada seorang saja perempuan hebat yang ikut berjalan beriringan, dan kita tidak akan kekurangan apa-apa dalam cinta.

No comments:

Post a Comment

Harga dari Rasa Syukur

Beberapa tahun sudah saya coba menutup buku usang ini tempat berbagai kelelahan pikir tertumpah. Ada masa ketika segala kecamuk dalam dada t...